Property:Response text id
From BASAbaliWiki
E
Upaya untuk mendetoksifikasi "racun" overtourism di Bali harus dilakukan dengan mengembangkan tujuan baru di Bali Utara, Timur dan Barat melalui ekowisata dan budaya lokal. Ini akan menerapkan peraturan ketat seperti tingkat pariwisata, pembatasan akomodasi baru, dan pajak lingkungan. Pariwisata berkelanjutan terkemuka melalui sertifikasi ekowisata, larangan plastik dan infrastruktur ramah lingkungan. Persetujuan masyarakat melalui pariwisata berbasis masyarakat. Ini termasuk desa normal dari proses pengambilan keputusan. Klarifikasi wisatawan tentang etika dan pariwisata lambat. Penggunaan teknologi untuk mengatur kepadatan wisata. Memulihkan ekosistem penting seperti terumbu karang dan hutan bakau. Kerja sama antara pemerintah, NRO, komunitas dan aktor ekonomi. Politik jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekonomi, budaya, dan alam Bali +
Sebagai umat hindu bali tentunya dalam melaksanakan kegiatan keagamaan sampah yang dihasilkan sangat banyak, baik itu sampah organik maupun anorganik. Contohnya saat upacara melasti, sampah yang dihasilkan dalam upacara itu sangat banyak baik sampah organik seperti sarana upacara dan sampah anorganik yang dikonsumsi masyarakat. Hal ini menyebabkan penumpukan sampah di daerah tersebut sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan.
Oleh karena itu, kita sebagai umat hindu harus memikirkan upaya mengurangi sampah ini. Menurut saya, setelah melakukan upacara agama kita dapat mengumpulkan sampah-sampah yang dihasilkan dari upacara tersebut. Setelah itu, dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, untuk sampah organik dapat kita manfaatkan sebagai ecoenzim lalu sampah anorganik dibawa ke TPA. +
Menurut sudut pandang saya, cara saya untuk mengurangi sampah yang di sebabkan oleh aktivitas keagamaan yang ada di lingkungan saya. Saya ambil contoh pada pura uluwatu. Di pura uluwatu memiliki kebijakan yakni tidak boleh membawa masuk plastic sekali pakai ke dalam area pura. Dengan adanya kebijakan ini secara tidak langsung kita sudah mengurangi dan memisahkan sampah plastic dengan sampah organic. Perlu kita ketahui sampah yang digunakan untuk aktivitas keagamaan hindu kebanyakan merupakan sampah organik. Dengan adanya sampah organic tersebut kita bisa memngubahnya menjadi pupuk kompos, pupuk ini sangat bermanfaat bagi lingkungan dan dapat mengurangi sampah dari hasil kegiatan keagamaan. Saya harap seluruh pura di bali dan luar bali mengikuti untuk melaksanakan peraturan yang ada di pura Uluwatu +
Upacara agama di Bali banyak sekali menimbulkan sampah. Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah tersebut.
1. Kita tidak boleh menggunakan barang sekali pakai. Contohnya Plastik, ketika kita nunas tirta kita harus menggunakan toples, dan ketika kita ke pura kita harus menggunakan tas yang dapat digunakan kembali.
2. Kita harus membuang dupa di tempat yang sudah disediakan, supaya dupa tersebut habis terbakar.
3. Kita harus memilah sampah organik, sampah organik tersebut dapat digunakan untuk membuat eco-enzym yang berguna untuk alam.
4. Kita harus menggunakan bahan organik untuk sarana upacara agama seperti daun kelapa dan semat. +
Pariwisata yang berkembang pesat memang menguntungkan, tetapi tanpa pengelolaan yang baik, bisa merusak lingkungan. Masalah utama meliputi sampah, polusi, dan kerusakan alam. Oleh karena itu, semua pihak—pemerintah, masyarakat, dan wisatawan—harus peduli. Diperlukan regulasi ketat, penerapan konsep pariwisata berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran. Masyarakat bisa berkontribusi mulai dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mendukung produk ramah lingkungan. +
Pariwisata bali overtourism tidaklah penting karena yang terpenting mencegahnya, karena jika terjadi berarti terlambat. Lihat saja apakah hidup kita terganggu karena kunjungan wisatawan? Bila sudah berarti harus segera bertindak. Ada 2 gerakan yakni di masyarakat adat dan gerakan dari pemerintah bersama stakeholder lainnya. Gerakan masyarakat adat sebagai benteng utama budaya Bali dalam menjaga ketertiban, keamanan, kenyamanan, kebersihan sebagaimana sapta pesona. Bila masyarakat adat dalam lingkungan banjar ini kuat dan bersatu tidak ada gangguan dari luar yang bisa masuk untuk merusak. Gerakan dari Pemerintah untuk segera membentuk regulasi dan mengimplementasi dalam menghapus usaha ilegal apapun bentuknya yang mengganggu ekosistem pariwisata dan membentuk satuan khusus Pengelola Pariwisata Bali dengan tugas memonitoring perkembangan pariwisata Bali agar sesuai prinsip berkelanjutan dan pariwisata regeneratif serta membuat rekomendasi tertulis dengan kajian empiris serta akademik sebagai masukan kebijakan di tingkat kabupaten atau kota, provinsi dan nasional. Dokumen Perencanaan RDTR, RTRW, RIPPARDA harus sinkron dari kabupaten/kota sampai provinsi. +
Budaya Bali adalah warisan berharga yang sudah terkenal, bukan hanya sebagai tontonan wisata. Di era sekarang ini yang disebut era globalisasi, akulturasi budaya digunakan untuk mendukung pariwisata harus dilakukan dengan tetap menghormati tradisi lokal. Upacara, seni, dan adat yang khas adalah identitas Bali yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sebagai masyarakat Bali, kita harus menjaga warisan ini dari komersialisasi yang menghilangkan esensi budaya. Regulasi dan edukasi bagi wisatawan perlu diterapkan agar mereka memahami dan menghormati nilai-nilai budaya Bali. +
Permasalahan overtourism menjadi ancaman bagi industri pariwisata dan kenyamanan kehidupan masyarakat Bali, dimana secara nyata telah dirasakan oleh salah satu destinasi wisata yakni Desa Penglipuran. Lebihnya jumlah kunjungan wisatawan di Desa Penglipuran dari target berpotensi memberikan dampak negatif bagi Desa Penglipuran. Dapat dilihat dari membludaknya kedatangan wisatawan di Desa Penglipuran dapat menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat hingga timbulnya kemacetan.
Strategi pertama yang diterapkan oleh Desa Penglipuran untuk menangani permasalahan tersebut adalah berupa pemerataan lahan parkir yang tersedia di Desa Penglipuran. Upaya atau strategi yang telah dilaksanakan oleh Desa Penglipuran adalah dengan cara mengelola kedatangan wisatawan melalui beberapa pintu masuk yang diarahkan pada pemerataan pemenuhan tempat parkir. Strategi kedua yang diterapkan adalah mengembangkan daya tarik wisata baru yang ada pada lingkungan sekitar Desa Penglipuran seperti mengembangkan daya tarik baru di hutan bambu. Dengan adanya strategi tersebut diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari kunjungan wisatawan yang membludak di Desa Penglipuran. +
Sarana upacara dan sampah bagaikan dua sahabat yang sangat karib. Dimanapun ada yadnya yang menggunakan sarana upacara, pasti ada sampah disana. Semakin besar yadnya yang digelar, maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Fenomena tersebut sangat sering dijumpai di lingkungan pura yang ada di Bali. Permasalahan tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat Bali terhadap kebersihan pura. Untuk menanggulangi hal tersebut, kita harus introspeksi diri. Apabila telah selesai sembahyang, sampah persembahyangan harus dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah. Begitu juga setelah menghaturkan sesajen, jangan meletakkan canang yang sudah selesai dihaturkan di tempat sesajen. Akhirnya sebagai wujud bakti kepada Tuhan, maka kita harus menjaga kebersihan “Sthana Beliau” dengan cara tidak membuang sampah belanjaan atau sampah makanan secara sembarangan di pura. Apabila keseluruhan hal tersebut sudah dilaksanakan, pasti petugas kebersihan pura tidak akan pernah mengeluh dan hasilnya hubungan erat antara sarana upacara dan sampah akan segera dapat diakhiri. +
Silakan masukkan tanggapanmu dalam bahasa Bali (jika tidak, Anda menggunakan bahasa lain). Bahasa Bali sehari-hari aja sudah cukup! Jangan khawatir tentang tata bahasa atau ejaan yang tepat. Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris jika memungkinkan! +
Om swastyastu
Yang Terhormat kepada bpk/ibu dewan juri
Dan para audiens yang Saya hormati
Sebelum Saya memulai orasi,Saya ingin mengucapkan puja dan puji syukur terlebih dahulu kepada Tuhan yang maha Esa(Ida Sang Hyang Widhi Wasa) karena dengan karunia-Nya lah saya dapat berorasi sekarang
Terkait dengan pengolahan sampah bekas Sembahyang dipura dengan berorasi ini saya ingin menyalurkan ide dan pendapat untuk pengelolaan sampah bekas sembahyang dipura batur,yaitu dengan mengadakan biaya masuk ke pura itu sendiri,cukup miminta Rp1000-2000 rupiah per anak muda dan orang dewasa,pemungutan biaya ini bertujuan untuk dipergunakan mencari lahan lagi serta menambah jumlah pekerja,karena ketika semakin ramai yang datang untuk bersembahyang di pura,maka semakin banyak juga pekerja yang dapat diperoleh untuk meringankan pekerjaan,pendapat dari saya ini menggunakan sistem pengelolaan uang dengan menyalurkannya menjadi lahan kerja baru dan Tenaga kerja baru,selain mengurangi jumlah kerugian,dan mengurangi berat dalam pekerjaan,ini juga akan mengurangi jumlah pengangguran di daerah bali.
Dengan berorasi ini Saya sangat berharap orasi saya dapat didengarkan karena,untuk mencapai suatu hal yang lebih baik,kita harus berani mengambil perubahan,dan keputusan.
Semoga orasi yang saya sampaikan dapat bermanfaat untuk permasalahan yang sedang berlangsung. akhir saya tutup dengan parama Santhi, Om Santhi,Santhi,Santhi Om. +
Om swastyastu
Yang Terhormat kepada bpk/ibu dewan juri
Dan para audiens yang Saya hormati
Sebelum Saya memulai orasi,Saya ingin mengucapkan puja dan puji syukur terlebih dahulu kepada Tuhan yang maha Esa(Ida Sang Hyang Widhi Wasa) karena dengan karunia-Nya lah saya dapat berorasi sekarang
Terkait dengan pengolahan sampah bekas Sembahyang dipura dengan berorasi ini saya ingin menyalurkan ide dan pendapat untuk pengelolaan sampah bekas sembahyang dipura batur,yaitu dengan mengadakan biaya masuk ke pura itu sendiri,cukup miminta Rp1000-2000 rupiah per anak muda dan orang dewasa,pemungutan biaya ini bertujuan untuk dipergunakan mencari lahan lagi serta menambah jumlah pekerja,karena ketika semakin ramai yang datang untuk bersembahyang di pura,maka semakin banyak juga pekerja yang dapat diperoleh untuk meringankan pekerjaan,pendapat dari saya ini menggunakan sistem pengelolaan uang dengan menyalurkannya menjadi lahan kerja baru dan Tenaga kerja baru,selain mengurangi jumlah kerugian,dan mengurangi berat dalam pekerjaan,ini juga akan mengurangi jumlah pengangguran di daerah bali.
Dengan berorasi ini Saya sangat berharap orasi saya dapat didengarkan karena,untuk mencapai suatu hal yang lebih baik,kita harus berani mengambil perubahan,dan keputusan.
Semoga orasi yang saya sampaikan dapat bermanfaat untuk permasalahan yang sedang berlangsung. akhir saya tutup dengan parama Santhi, Om Santhi,Santhi,Santhi Om. +
Environmentally Friendly Efforts in Hindu Religious Activities through Dharma Teachings and Use of Natural Materials +
Solusi tepat untuk mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan Hindu adalah dengan mengedukasi umat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sesuai ajaran dharma. Penggunaan bahan alami seperti daun dan bunga segar untuk persembahan harus lebih diutamakan daripada plastik. Membawa tas kain atau wadah yang bisa digunakan kembali juga penting. Pemuka agama dapat mengeluarkan panduan resmi tentang praktik ramah lingkungan selama upacara, serta menyediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik. Dengan kerjasama komunitas dan kesadaran bersama, kita bisa beribadah dengan lebih bersih dan tetap menghormati alam. +
F
Meskipun Pulau Bali memiliki keindahan yang mempesona, kemacetan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas semakin parah akibat wisatawan yang mengendarai kendaraan tanpa SIM, melanggar peraturan, dan tidak mempedulikan keselamatan sehingga menimbulkan situasi berbahaya bagi semua orang. Di Bali, kemacetan semakin parah, bukan hanya karena banyaknya wisatawan yang memilih menggunakan mobil atau sepeda motor pribadi, namun juga karena tidak menaati peraturan lalu lintas, seperti tidak memiliki SIM, tidak menaati peraturan, dan mengemudikan kendaraan sembarangan. Saya sangat prihatin dengan situasi lalu lintas di Bali yang semakin buruk. Banyak wisatawan yang mengendarai kendaraan tanpa mempertimbangkan keselamatan diri sendiri atau orang lain, sehingga memperparah kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Berdasarkan data kepolisian setempat, banyak wisatawan yang kedapatan mengemudikan kendaraan tanpa surat izin mengemudi dan izin kendaraan yang masih berlaku. Selain itu, sebagian besar dari mereka juga sering melanggar peraturan lalu lintas seperti tidak memakai helm, melaju dengan kecepatan berlebihan, atau mengabaikan rambu-rambu jalan sehingga berujung pada kecelakaan dan kerugian lainnya. Tentu ada yang berpendapat, wisatawan memilih menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum di Bali. Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk mengabaikan keselamatan dan melanggar hukum. Perlu kami tekankan bahwa kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas harus menjadi prioritas utama, baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan. Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu memperkuat pengendalian lalu lintas, mengedukasi wisatawan tentang pentingnya mematuhi peraturan, dan menyediakan alternatif transportasi umum yang aman dan ramah lingkungan. Mari kita promosikan Bali sebagai destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga aman dan nyaman bagi seluruh warganya! +
Dalam keadaan yang semakin memprihatinkan ini, kita semua harus menjaga lingkungan. Salah satunya dengan melakukan tindakan nyata yang baik. Kegiatan keagamaan, terutama umat Hindu, pasti tidak lepas dari penggunaan perlengkapan dan bahan habis pakai yang menghasilkan sampah. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai umat Hindu turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam, terutama dalam upacara keagamaan dengan cara:
* Menggunakan bahan alami seperti daun pisang, bambu, atau kertas daur ulang, atau menggunakan tas belanja yang dapat digunakan kembali.
* Memisahkan sampah sisa upacara (organik) dengan sampah non-organik.
* Pihak pura menyediakan tempat untuk membuat kompos dari sampah organik.
* Bekerjasama dengan pemerintah untuk mendapatkan tempat pembuangan sampah yang layak.
* Selalu membawa tumbler untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, botol plastik, dan gelas plastik.
'Pura itu bukan hanya tempat beragama, tetapi juga tempat belajar tentang dunia. Mari kita jaga kebersihan sesuai dengan ajaran agama, dan bakti kepada leluhur kita'." +
Sampah upacara agama
Di bali tidak luput dari upacara agama yang di lakukan setiap hari. Hal ini menyebabkan banyaknya sampah yang ada di lingkungan pulau Bali, terutama sampah organik. Padahal Gubernur daerah Bali sudah mengeluarkan peraturan Gubernur Bali Nomor 47 tahun 2019 mengenai pengolahan sampah,hal ini di sesuai dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Adapun faktor yang menyebabkan banyaknya sampah yang ada di pulau bali karena upacara keagamaan terutama pada pura,pantai,dan rumah antara lain;
1. Kurangnya kesadaran masyarakat akan cara pengolahan sampah,
2. Kurangnya ketegasan dalam aturan-aturan pura,
3. Kurangnya kesadaran akan kelestarian lingkungan tempat melaksanakan yajna atau upacara,
Hal ini menyebabkan banyak sampah berserakan dan mengurangi kelestarian tempat tempat suci dan tempat untuk melakukan upacara lainnya.
Untuk menanggapi hal ini kita sebagai masyarakat bali harus bisa tegas terhadap peraturan yang ada, agar kelestarian dan kebersihan tempat tempat suci dan tempat lainnya tetap terjaga. Selain kita sebagai masyarakat bali sendiri,kita juga harus menghimbau wisatawan agar bisa mengikuti peraturan yang ada. Adapun cara penanggulangannya antara lain:
1. Melakukan sosialisasi untuk menambah wawasan,pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang cara penanggulangan dan pengolahan sampah yaitu 3r( reduce, reuse, recycle)
2. Membuat TEBA MODERN sebagai tempat penampungan sampah organik agar bisa dimanfaatkan sebagai kompos,
3. Untuk pura yang memiliki penunggu monyet atau kera mungkin bisa menggunakan teba modern dan juga tempat sampah dari besi yang cukup berat, agar tidak bisa dibuka paksa sehingga mengurangi sampah berserakan.
4. Melaksanakan konsep TRI HITAM KARANA,
5. Menyediakan tempat sampah di area pura,
6. Memberikan teguran hingga denda terhadap masyarakat yang melanggar aturan pembuangan sampah. +
Menanggulangi sampah adalah masalah yang sangat penting yang membutuhkan upaya bernama dari semua pihak.
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi sampah:
Yang pertama adalah membuat bak sampah di acara keagamaan, sampah-sampah yang ada di acara tersebut di buang ke bank sampah lalu di bakar.
Yang kedua adalah menyediakan tempat sampah di sudut-sudut tertentu yaitu berupa tempat sampah organik dan anorganik.
Yang ketiga adalah tidak membeli alat persembahyangan di luar , sebaiknya membawa alat persembahyangan dari rumah agar bisa mengurangi penggunaan sampah plastik.
Yang ke empat adalah memisahkan sampah berdasarkan jenisnya agar mudah di daur ulang.
Yang kelima adalah membangun kesadaran di dalam masyarakat tentang betapa penting ya pengelolan sampah.
Itu tadi beberapa cara untuk menanggulangi sampah plastik. +
Saya melihat banyak orang menggunakan kantong plastik ketika kami pergi ke pura. Setelah mereka sembahyang, sampah plastik tersebut tidak dipungut. Inilah sebabnya mengapa sampah plastik di pura semakin meningkat. Saran saya, jika kita sembahyang di pura kita mengganti wadah canangnya menjadi bokor dan kantong plastik yang tidak sekali pakai, agar sampah plastik semakin sedikit dan kita lebih nyaman saat sembahyang di pura. Jika masih ada yang menggunakan kantong plastik saat sembahyang di pura kami bisa menegur dan suruh mengganti wadah canangnya menjadi bokor dan lain-lain yang menambahkan sampah plastik. +