Property:Response text id

From BASAbaliWiki
Showing 20 pages using this property.
"
Kita tahu, perekonomian Bali bertumpu pada sektor pariwisata. Namun, overtourism bukan sekadar persoalan kepadatan turis, melainkan juga ancaman terhadap budaya dan lingkungan. Budaya asing semakin meresap, menggusur tradisi lokal, sementara transportasi tradisional seperti cikar dan dokar mulai terpinggirkan oleh kendaraan bermotor yang mencemari alam. Untuk menjaga budaya Bali yang adi luhur, diperlukan komitmen kuat dari masyarakat, pemerintah, dan wisatawan melalui TIRTA: 1. Tata kelola wisata yang tegas agar jumlah wisatawan tetap terkendali dan berkualitas. 2. Integrasi budaya &lingkungan agar pariwisata tidak menggerus identitas lokal. 3. Revitalisasi tradisi dengan memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap adat istiadatnya. 4. Tanggung jawab bersama antara pemerintah,masyarakat, dan wisatawan dalam menjaga kelestarian budaya. 5. Arahkan ke wisata berkelanjutan yang berbasis komunitas tanpa merusak lingkungan. Festival budaya pun harus diperkuat dengan regulasi nyata, bukan sekadar seremonial belaka. Jika komitmen ini diabaikan, konsekuensinya bisa mengikis identitas Bali sebagai warisan budaya adi luhur. Dengan TIRTA, Bali dapat tetap bersinar di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan jati dirinya.  +
Generasi milenial dapat mengatasi overtourism dengan memilih destinasi alternatif yang kurang padat namun tetap menarik. Bepergian di luar musim ramai juga menjadi solusi untuk mengurangi kepadatan dan membantu ekonomi lokal sepanjang tahun. Selain itu, mendukung pariwisata berkelanjutan dengan memilih akomodasi ramah lingkungan, menggunakan transportasi umum, serta mengurangi jejak karbon sangat penting. Menghormati budaya lokal dengan memahami adat istiadat setempat, mengurangi polusi suara, dan berbelanja di usaha lokal juga dapat memberikan dampak positif. Teknologi pun dapat dimanfaatkan untuk menemukan tempat tersembunyi, menghindari antrean panjang, dan merencanakan perjalanan lebih efisien. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, generasi milenial dapat tetap menikmati wisata yang berkualitas tanpa merusak lingkungan atau mengganggu kehidupan masyarakat setempat, sehingga tercipta keseimbangan antara eksplorasi dan pelestarian.  +
Dalam kegiatan agama, bisa menghasilkan banyak sampah jika belum disertai dengan upaya menjaga lingkungan. Salah satu contohnya adalah penggunaan plastik sekali pakai yang menjadi sumber utama sampah. Cara yang baik untuk mengurangi hal ini adalah dengan tidak menggunakan plastik atau bahan yang sulit terurai, melainkan menggunakan barang-barang yang bisa dipakai kembali, seperti bokor anyaman atau tas kain. Saling peduli terhadap lingkungan dan gotong royong membersihkan sampah, meskipun kecil, sangat penting. Pada acara-acara besar, pengelolaan sampah bisa diatur sebelum upacara berlangsung agar tidak menumpuk. Menjaga lingkungan dalam kegiatan agama sudah seharusnya menjadi bagian dari ajaran agama yang turut serta menjaga alam dan keharmonisan. Dalam kegiatan agama, bisa menghasilkan banyak sampah jika belum disertai dengan upaya menjaga lingkungan. Salah satu contohnya adalah penggunaan plastik sekali pakai yang menjadi sumber utama sampah. Cara yang baik untuk mengurangi hal ini adalah dengan tidak menggunakan plastik atau bahan yang sulit terurai, melainkan menggunakan barang-barang yang bisa dipakai kembali, seperti bokor anyaman atau tas kain. Saling peduli terhadap lingkungan dan gotong royong membersihkan sampah, meskipun kecil, sangat penting. Pada acara-acara besar, pengelolaan sampah bisa diatur sebelum upacara berlangsung agar tidak menumpuk. Menjaga lingkungan dalam kegiatan agama sudah seharusnya menjadi bagian dari ajaran agama yang turut serta menjaga alam dan keharmonisan.  +
Pelaksanaan upacara keagamaan harus dilakukan dengan pengelolaan sampah yang baik, agar tetap teratur dan tertib. Sampah organik, seperti banten yang sudah digunakan, sebaiknya diolah menjadi kompos atau digunakan kembali untuk tanaman di kebun atau hutan. Sampah plastik dan anorganik harus dipisahkan dan ditempatkan di tempat sampah yang sesuai. Desa adat perlu menerapkan sistem daur ulang yang melibatkan masyarakat lokal, sehingga plastik dan bahan anorganik lainnya dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu, penting untuk memberikan edukasi dan penyuluhan kepada generasi muda dan masyarakat agar sampah tidak menumpuk dan untuk mencegah polusi. Ini adalah tanggung jawab kita untuk menjaga lingkungan yang bersih dan lestari.  +
$
$ +
Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan cara pengurangan sampah dalam aktivitas keagamaan. 1. Penggunaan Bahan Ramah Lingkungan 2. Pengelolaan Sampah dengan Baik 3. Mengurangi Penggunaan Bahan Berlebih 4. Pemanfaatan Kembali bahan bahan upacara 5. Edukasi dan Sosialisasi 6. Inovasi dalam Upacara Sekian pendapat yang bisa saya sampaikan untuk mengurangi sampah dalam aktivitas ke agamaan, terimakasih.  +
$$ +
-  +
%
% +
-  +
(
Bali menghadapi tantangan overtourism di beberapa destinasi populer seperti Kuta, Ubud, dan Seminyak, sementara daerah lain kurang berkembang. KERTHI SmartTourism hadir sebagai solusi inovatif berbasis AI dan Blockchain untuk mendistribusikan wisatawan secara lebih merata dan mendukung ekowisata. Dengan teknologi ini, Bali dapat mengurangi kemacetan, meningkatkan ekonomi lokal, dan memastikan pariwisata yang lebih hijau serta berkelanjutan.  +
-
- +
-  +
-- +
-  +
g wajib  +
3
Pariwisata Bali berada antara populer dan terancam. Makin hari pariwisata Bali semakin tidak terkendali menyebabkan overtourism. Jika overtourism ini terus dibiarkan, bukan hanya jumlah wisatawan yang membludak, tetapi juga dampaknya yang lebih serius pada lingkungan, budaya, ekonomi, dan kehidupan masyarakat lokal. Namun, Kemenparekraf menyatakan bahwa masalah pariwisata Bali bukan overtourism melainkan overconsentrate, yaitu jumlah wisatawan yang membludak hanya pada beberapa daerah saja karena distribusi wisatawan yang kurang merata. Daerah yang banyak dikunjungi adalah Bali Selatan. Maka, inovasi pemerintah patut digencarkan yaitu Wisata 3B (Banyuwangi-Bali Barat-Bali Utara). Dengan Wisata 3B jalur kedatangan wisatawan akan tersebar secara merata di seluruh Bali. Kontribusi masyarakat dan agen pentahelix juga dibutuhkan dengan melakukan promosi dan peningkatan kualitas seperti fasilitas, infrastruktur, akomodasi, aksesibilitas, dan lainnya pada objek wisata daerah tersebut untuk menyambut datangnya wisatawan. Karena sejatinya setiap titik di Bali memiliki budaya, tradisi, dan keunikannya sendiri. Dengan Wisata 3B, ayo kita kunjungi setiap titik di Bali!  +
Menurut saya,cara yang digunakan untuk mengurangi sampah yaitu dengan 3R, Reduce, Reuse,dan Recycle. Reduce yaitu mengurangi kemasan sekali pakai, kalau biasanya kita menggunakan tas kresek untuk membawa sarana persembahyangan, sekarang kita ganti dengan bokor atau tas kain yang bisa dibawa dibawa pulang lagi dan tidak meninggalkan sampah di tempat persembahyangan. Reuse yaitu menggunakan kembali , jika reduce sudah diterapkan kita bisa menggunakan kembali barang tersebut, misalnya bokor yang masih bisa dipakai lagi untuk tempat sarana persembahyangan, hal tersebut bisa mengurangi sampah di area pura. Recycle yaitu mendaur ulang, karena tidak mungkin mengurangi sarana persembahyangan sebagai bagian dari budaya bali seperti sesajen berupa bunga, daun, buah, dan canang yang disajikan di setiap upacara adat. dari hal tersebut kita bisa memasang biopori di lingkungan pura yang memiliki karakteristik alam terbuka, sampah organik sisa sarana persembahyangan yang dimasukkan ke dalam lubang biopori bisa menjadi pupuk kompos yang tentunya memiliki fungsi sebagai penyubur tanah.  +
A
Overtourism di Bali, terutama di Bali Selatan, telah menimbulkan kemacetan, permasalahan sampah, dan perilaku wisatawan yang merusak citra budaya. Untuk mengatasi hal ini, perlu pemerataan destinasi agar pariwisata tidak hanya terpusat di satu wilayah. Paket Wisata 3B (Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara) menjadi salah satu upaya untuk mendorong wisatawan menjelajahi daerah lain, selaras dengan konsep Padma Buana yang menekankan keseimbangan wilayah. Bali dapat mencontoh Jepang yang membatasi arus wisatawan ke Distrik Gion demi menjaga budaya lokal. Regulasi serupa bisa diterapkan agar Bali tetap lestari. Selain itu, pembangunan LRT (Light Rail Transit) akan menjadi solusi transportasi untuk mengurai kemacetan dan menciptakan perjalanan yang ramah lingkungan. Sebagai masyarakat Bali, kita harus mendukung langkah ini. Dengan pemerataan wisata dan infrastruktur yang berkelanjutan, Bali dapat terus bersinar tanpa kehilangan jati dirinya.  +
Cara yang menurut saya bagus untuk mendetoksifikasi racun over turisme ini adalah mengurangi jumlah turis turis yang dapat pergi ke Bali. Memang turis sangat bagus bagi ekonomi Bali, tetapi jika turis yang terlalu banyak dapat menyebabkan overturism dan berdampak buruk bagi lingkungan yang ada di Bali. Contohnya seperti terjadinya kemacetan di beberapa daerah seperti kuta,Ubud dan beberapa tempat wisata lainnya. Selanjutnya untuk mendetoksifikasi over turism kita dapat meningkatkan regulasi dan menegakkan hukum. Meningkatkan regulasi disini itu maksudnya seperti menyesuaikan kebijakan visa agar hanya beberapa turis atau bahkan turis yang berkualitas saja yang dapat berkunjung ke Bali.  +
Masalah sampah adalah yang sangat krusial, apalagi tentang masalah sarana untuk bersembahyang, khususnya banten. Menurut saya, dari sosialisasi tentang masalah lingkungan, tidak hanya bisa diwacanakan belaka, tetapi harus ada aksi yang mendukung wacana tersebut. Kadangkala jika kita menghimbau masyarakat, kita mungkin akan dianggap sok peduli terhadap lingkungan, jadi yang merupakan permasalahan yang paling krusial bukan hanya tentang sampah lingkungan, tetapi juga sampah masyarakat. Dalam konteks ini, menurut opini saya pribadi, jika hanya menggunakan himbauan tanpa timbal balik dari masyarakat yang dihimbau, ya percuma himbauannya tersebut. Kalau menurut saya, untuk himbauannya bisa dilaksanakan oleh masyarakat, maka harus ada sedikit penekanan atau efek jera kepada masyarakat.  +
Sampah merupakan masalah sosial yang masih harus dicarikan solusi terbaik terkait penanganan maupun pengolahannya. Karena, tiap harinya hampir setiap aktivitas manusia menghasilkan sampah, baik organik maupun non organik. Masalah sampah ini baik organik maupun non organik, menjadi polemik dalam lingkup sosial masyarakat tidak terkecuali pada masyarakat Bali. Karena Bali sendiri merupakan sebuah wilayah yang padat aktivitas budaya dan keagamaan yang sudah tentu berpotensi menghasilkan sampah. Permasalahan ini tentunya perlu segera diselesaikan dengan beberapa cara seperti di bawah ini: 1. Penggunaan bahan ramah lingkungan yang tidak sekali pakai. 2. Membuat regulasi terhadap sampah hasil aktivitas keagamaan 3. Kampanye kesadaran lingkungan hidup. 4. Pengelolaan sampah terpadu Dari empat cara yang disebutkan diatas bisa dijabarkan sebagai berikut yaitu: Penggunaan bahan ramah lingkungan yang tidak sekali pakai dalam upacara keagamaan seperti, saat ke pura menggunakan bokor kecil untuk tempat canang dan tidak menggunakam plastik. Kedua, membuat regulasi terhadap sampah hasil aktivitas keagamaan yang dimaksud disini adalah suatu peraturan yang dibuat untuk mencegah sampah semakin menumpuk salah satunya, dengan menyediakan tempat sampah organik dan non organik di kawasan pura dan saat sebelum sembahyang pengempon pura atau pemangku bisa memberikan himbauan kepada pemedek untuk membuang sampah sisa sarana persembahyangan sesuai jenisnya. Ketiga, melakukan kampanye kesadaran lingkungan hidup dimana, dalam hal ini bisa melibatkan komunitas pecinta lingkungan yang nantinya bisa melakukan kegiatan semacam kampanye atau sosialisasi terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Terakhir, yaitu pengelolaan sampah terpadu artinya, proses pengelolaan sampah yang dilakukan secara berkesinambungan meliputi pewadahan, pengumpulan, pemilihan, penggunaan ulang, pemanfaatan kembali, pendaur ulang, pengelolaan, dan pemrosesan akhir. Selain hal yang dijabarkan diatas, hal yang perlu diperhatikan tentunya kesadaran dari dalam diri sendiri tentang pentingnya menjaga kebersihan areal pura. Contoh kecil yang bisa kita terapkan yaitu saat selesai sembahyang, bekas sarana persembahyangan bisa langsung dipungut dan dibuang ke tempat sampah. Hal ini secara tidak langsung juga akan memberikan contoh kepada orang lain agar melakukan hal serupa saat selesai sembahyang.  
"𝘼π™₯π™š π™–π™‘π™žπ™ π™–π™™π™š" merupakan kalimat yang sering diucapkan sekarang, ini merujuk pada perilaku para turis asing yang banyak memunculkan kriminalitas. Menyebarnya racun π—’π˜ƒπ—²π—Ώπ˜π—Όπ˜‚π—Ώπ—Άπ˜€π—Ί di Bali menimbulkan banyak dampak negatif seperti, penurunan moralitas, ambil alih lahan, pelanggaran lalu lintas dan banyak dampak negatif lainnya. Tanpa adanya pemerataan destinasi wisata di Bali bagian utara, akan menyebabkan jumlah turis di Bali bagian selatan semakin membludak dan π—’π˜ƒπ—²π—Ώπ˜π—Όπ˜‚π—Ώπ—Άπ˜€π—Ί akan terus berlanjut. Studi menunjukkan bahwa dengan pemerataan destinasi wisata dapat menjadi solusi yang tepat penanggulangan racun π—’π˜ƒπ—²π—Ώπ˜π—Όπ˜‚π—Ώπ—Άπ˜€π—Ί. Pemerintah harus segera melakukan pemerataan destinasi wisata tersebut. Jika ini tidak segera dilakukan, maka racun π—’π˜ƒπ—²π—Ώπ˜π—Όπ˜‚π—Ώπ—Άπ˜€π—Ί akan menggerogoti Bali dengan menghilangkan keindahan alam dan budaya Bali itu sendiri. π—’π˜ƒπ—²π—Ώπ˜π—Όπ˜‚π—Ώπ—Άπ˜€π—Ί bukan surga untuk wisata, melainkan ancaman untuk Bali. Dengan pemerataan destinasi wisata akan membuat Bali tetap ajeg!  +
Bali saat ini menghadapi masalah overtourism, dengan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2024 mencapai 6.333.360 orang atau meningkat 20,1 persen dibanding 2023 (Ungkap Badan Pusat Statistik Bali). Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan, sampah, dan gangguan kehidupan lokal. Ekosistem alam, seperti pantai dan terumbu karang, juga mulai rusak. Bagaimana cara mengatasi masalah ini? Salah satu solusi adalah dengan mempromosikan destinasi wisata di luar area padat seperti daerah utara Bali (Buleleng, Karangasem, dan Bangli). Mengembangkan destinasi ini dapat mendistribusikan wisatawan secara merata, mengurangi tekanan pada kawasan yang ramai. Pemerintah dan industri pariwisata bisa membuat paket wisata untuk mengarahkan pengunjung ke daerah-daerah tersebut. Promosi melalui media sosial dan platform wisata juga penting untuk menarik wisatawan. Selain itu, pengembangan infrastruktur seperti akomodasi dan transportasi di daerah-daerah ini akan mendukung pariwisata yang lebih merata, menjaga daya tarik Bali tanpa merusak lingkungan dan budaya.  +
Pariwisata berlebihan telah menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan dan budaya Bali. Untuk mengatasi dampak ini, kita perlu mengambil langkah-langkah yang strategis. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan: - Mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab - Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata - Mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam dan mengurangi dampak lingkungan - Mengembangkan produk pariwisata yang unik dan berkualitas untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal  +