Property:Response text id

From BASAbaliWiki
Showing 20 pages using this property.
P
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah : 1. Kurangi penggunaan plastik 2. Gunakan bahan ramah lingkungan 3. Kurangi pemborosan makanan 4. Daur ulang dan kompos  +
Menjaga lingkungan hidup sangat penting. Jika tidak, generasi masa depan tidak akan bisa memanfaatkan alam. Saya berusaha setiap hari memberi yang terbaik untuk lingkungan yang sudah memberi banyak kepada saya. Meskipun tindakan saya kecil, dampaknya akan terasa oleh orang lain. Tujuan akhir saya adalah memberikan warisan kepada generasi berikutnya, meninggalkan bumi yang lebih bersih dan alam yang terjaga.  +
Menurut Saya, jangan membawa atau memakai plastik sebagai wadah bunga atau banten untuk mengurangi sampah plastik di tempat suci seperti pura-pura di Bali.Ganti plastik dengan kantong kain untuk wadahnya jika diperlukan dan buang sampah plastik atau organik pada tempatnya.Jika menemukan sampah plastik disekitaran pura atau ditempat umum lainnya pungut dan buang ditempatnya jangan malu untuk memungut sampah milik orang lain untuk kebaikan kita dan bumi pertiwi,dan bantu jika ada orang yang sedang bebersih di pura bantu mereka untuk memungut sampah.Jaga kebersihan disekitar kita untuk kebaikan kita semua sebagai mahluk hidup.  +
Menurut pendapat saya,untuk mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan di pura bisa dengan melakukan 2 cara, yaitu pengolahan dan penanganan. Pengurangan sampah dapat dilakukan dengan 3 cara atau yang sering disebut 3R (reuse, reduce ,recycle). Sedangkan penanganan sampah dapat dilakukan dengan cara mengolah sampah secara sistematis, mulai dari pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan,hingga pemrosesan akhir sampah. Sarana berupa: bunga, buah-buahan, kelapa, dan bambu disajikan disetiap upacara adat. Pengolahan sampah yang sebagian besar sampah organik bisa dilakukan dengan melakukan pengomposan dan pembuatan eco-enzyme. Selain itu, terdapat juga sampah lainnya seperti plastik dan kaleng minuman. Perilaku masyarakat yang menggunakan produk sekali pakai saat ke pura masih berpotensi tinggi. Maka dari itu perlu adanya sosialisasi mengenai pengolahan sampah serta fasilitas pengolahan sampah perlu disediakan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan bisa mengurangi penumpukan sampah dan dampak negatifnya,serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik.  +
Jika saya lihat, memang sungguh banyak sampah yang berhamburan ketika melaksanakan upacara yadnya, seperti sampah canang atau sampah plastik. Karena pura itu adalah tempat yang suci, tidak baik jika ada sampah yang berhamburan. Saya berpikir untuk mengurangi sampah ketika melaksanakan upacara agama sebagai berikut: 1. Menyiapkan 2 jenis tempat sampah, yaitu organik dan anorganik, karena sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos, jika sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi sara yang berguna. 2. Memberitahu seluruh masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya dan melaksanakan bersih-bersih selesai berkegiatan upacara agama. 3. Jangan menggunakan sarana persembahyangan sekali pakai seperti plastik. Seharusnya menggunakan sarana persembahyangan yang bisa digunakan berulang, seperti bokor. 4. Setiap desa wajib mendapatkan sosialisasi atau edukasi tentang pengolahan sampah dan tata cara agar sampah sisa upacara tidak berhamburan. 5. Yang terakhir, yang paling utama yaitu pada kita sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan, ayo mulai dari kita sendiri.  +
pamedek atau pengunjung dilarang keras membawa atau menggunakan tas kresek, pipet plastik, sterofoam serta produk lain yang berbahan plastik sekali pakai. Pamedek yang membawa sarana dilarang membuang sisa lungsuran di kawasan suci.antaranya adalah menyediakan tempat sampah yang memisahkan antara sampah organik dan non-organik dan disebarkan di titik-titik strategis dan tidak terlalu jauh antara tempat sampah satu dengan lainnya.Menegaskan pemeriksaan pada pamedek atau pengunjung sehingga pihak pengelola tidak lagi kecolongan jika ada yang membawa tas kresek,Denda juga bisa menjadi pilihan agar menjaga kawasan suci ini agar dapat memberikan efek jera dan menyadarkan pamedek atau pengunjung dan juga edukasi pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan di kawasan,Mengunakan bokor supaya tidak pakai pelastik.Kurangi sampah pembelian makanan dengan kemasan dan hindari penggunaan kantong plastik sekali pakai  +
Begitu banyak cara untuk kita menanggulangi sampah pada saat upacara keagamaan, salah satunya adalah yang paling penting adalah kesadaran kita bersama untuk tidak buang sampah sembarangan, dan juga saat ada upacara agama sampah organik bisa kita pilah dan diolah menjadi kompos dan eco enzyme. Sampah nonorganik dapat kita olah menjadi bahan kerajinan.  +
Tata Cara Mengurangi Sampah Sisa Upacara di Pura Ulun Danu Batur Pura Ulun Danu Batur adalah salah satu pura kahyangan jagat di Bali. Banyak sekali masyarakat Hindu di Bali yang datang kemari, menghaturkan bakti kepada Dewi Danu agar dunia selalu mendapatkan keselamatan. Namun ketika selesai upacara agama di sini, sampah terutama sampah plastik selalu menumpuk dan mencemari lingkungan. Para umat yang akan datang ke sini diharapkan agar menjaga lingkungan bersama-sama di Pura Ulun Danu Batur. Bagaimana caranya? 1. Yang pertama, jangan membawa sarana yang berbahan dasar plastik di Pura Ulun Danu Batur. Sampah plastik sangat sulit terurai di alam. Sekarang msayarakat harus siap untuk tidak lagi memakai plastik di area pura. 2. Yang kedua, membedakan sampah berdasarkan jenisnya. Para pengurus Pura Ulun Danu Batur harus menyediakan tempat sampah yang banyak dan dibedakan atas jenisnya. Para umat harus mengambil sarana persembahyangan setelah selesai bersembahyang dan ditaruh di tempat sampah. 3. Yang ketiga, harus ada edukasi atau kampanye lingkungan. Sudah menjadi kewajiban masyarakat sekalian agar menjaga kebersihan area Pura Ulun Danu Batur. Oleh karena itu, edukasi dan kampanye lingkungan menjadi upaya yang sangat penting untung mengurangi adanya sampah. 4. Yang terakhir dan yang paling utama adalah membuat peringatan, Perarem, Perdes dan bahkan Pergub mengenai tata cara mengurangi sampah sisa upacara di area suci pura. Yang dapat membuat masyarakat Bali tertib menjaga kebersihan di area pura adalah adanya tata tertib yang mungkin berupa peringatan, Perarem, Perdes hingga Pergub. Apabila pemerintah dan pengurus pura tidak mengeluarkan peraturan, mengenai upaya mengurangi sampah sisa upacara, sudah dapat dipastikan masyarakat tidak akan peduli dengan lingkungan. Begitu pula, perlu diberikan denda atau sanksi kepada masyarakat yang mengotori lingkungan. Simpulanː Usaha mengurangi sampah, utamanya sampah plastik sisa upacara agama di puta ulun danu sebagai rasa kasih dengan lingkungan. Dengan tidak membawa sarana plastik, memilah sampah menurut jenisnya, melaksanakan kampanye lingkungan dan membuat peraturan tentang sampah sisa upacara, kita bisa menjaga kebersihan dan kesucian pura dan juga menjaga lingkungan agar tetap asri. Ajakanː Mari semuanya menjaga kebersihan Pura Ulun Danu Batur dan tempat suci lainnya dengan cara tidak memakai plastik dan membuang sampah pada tempatnya.  
Dalam kegiatan keagamaan seperti ibadah atau galungan pasti akan ada sampah yang menumpuk di area atau di sekitar kuil atau rumah. Jadi cara untuk mengurangi sampah dalam setiap kegiatan keagamaan, adalah dengan mengurangi sampah yang tidak dapat atau sulit untuk didaur ulang. Cara pengurangan sampah dalam kegiatan keagamaan adalah sebagai berikut: 1. menyiapkan atau membuat tempat pembuangan sampah berdasarkan jenisnya seperti sampah organik, anorganik, sampah bahan berbahaya dan racun, kertas dan sampah pecah belah. 2. mengganti sampah yang susah di daur ulang menjadi mudah di daur ulang 3. menggunakan sampah organik untuk digunakan atau dijadikan kompos 4. menggunakan sampah anorganik yang mungkin masih layak didaur ulang 5. sering bekerja sama untuk melakukan pembersihan dan pemisahan sampah Itulah pendapat yang dapat saya berikan tentang cara mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan  +
Tata cara mangda luu pure nenten Aken tur ngranayan purene cemer 1. pamedek atau pengunjung dilarang keras membawa atau menggunakan tas kresek, pipet plastik, sterofoam serta produk lain yang berbahan plastik sekali pakai 2. Pamedek yang membawa sarana dilarang membuang sisa lungsuran di kawasan suci. 3. antaranya adalah menyediakan tempat sampah yang memisahkan antara sampah organik dan non-organik dan disebarkan di titik-titik strategis dan tidak terlalu jauh antara tempat sampah satu dengan lainnya 4. Menegaskan pemeriksaan pada pamedek atau pengunjung sehingga pihak pengelola tidak lagi kecolongan jika ada yang membawa tas kresek, 5. Denda juga bisa menjadi pilihan agar menjaga kawasan suci ini agar dapat memberikan efek jera dan menyadarkan pamedek atau pengunjung dan juga edukasi pentingnya untuk tidak membuang sampah sembarangan di kawasan 6. Mengunakan bokor supaya tidak pakai pelastik 7.Kurangi sampah pembelian makanan dengan kemasan dan hindari penggunaan kantong plastik sekali pakai.  +
Biasanya di setiap pura ada tukang kebersihan yang akan mengelola kebersihan lingkungan pura. Pihak kebersihan tersebut akan melakukan tindakan kebijakan untuk mengatasi sampah, contohnya dengan menyediakan tempat untuk timbunan sampah organik yang telah dipilah dan kemudian kita juga bisa menggunakan lubang biopori. Sedangkan untuk sampah anorganik tetap akan diarahkan ke TPA. Agar semua cara ini dapat bekerja secara efektif, perlu dibuat peraturan dilarang menggunakan plastik saat kegiatan persembahyangan di pura. Adapun alternatif lain sebagai penggantinya yaitu dengan menggunakan bokor, keben, tas kain.  +
Saudara semuanya yang saya cintai , apa kamu pernah melihat sampah di pura? pasti seringkan melihatnya. Apa kalian mempunyai kesadaran untuk membersihkan sampahnya? sebenarnya kalian harus memiliki kesadaran untuk membersihkannya , sampah itu ada karena kita sembarangan membuang sampah sisa persembahyangan.Kita sebagai umat hindu memiliki kewajiban menjaga kebersihan pura kita bersama. Bagaimana caranya? Caranya yaitu dengan mengolah sampah tersebut. Menurut UU no 18 tahun 2008 ada beberapa cara pengolahan sampah yang disingkat 3R(Reduce, Reuse,Recycle). Reduce adalah mengolah sampah dengan cara mengurangi penggunaan produk yang berpotensi menjadi sampah, seperti menggunakan bokoran untuk tempat canang sebagai pengganti plastik.Reuse adalah menggunakan kembali produk yang sudah terpakai,seperti menggunakan kembali plastik bekas canang. Recycle adalah mendaur ulang sampah ,seperti sampah sisa sisa canang yang dijadikan kompos. Nah , itulah cara mengolah sampah menurut Uu 18/2008.Cara ini bisa diterapkan sebelum/sesudah persembahyangan . Apa kalian bisa menerapkannya di pura kalian?Jika kalian bisa , berarti kalian sudah peduli dengan lingkungan pura kalian. Mari bersama sama menjaga kebersihan pura kita supaya bersih dan asri!  +
Pada umumnya timbulan sampah upacara adat terjadi saat kegiatan upacara adat,persembahyangan atau ritual.Jumlah sampah tersebut terkadang juga dapat melebihi ketersediaan wadah sampah yang disediakan di Pura,sehingga banyak sampah yang tercecer.Minimnya ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah menyebabkan tidak adanya pengolahan sampah pura yang umumnya didominasi oleh sampah organik.Maka dari itu diperlukan upaya untuk mengurangi keberadaan sampah upacara adat yaitu dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak dari sampah upacara tersebut,juga dengan menyediakan tempat pembuangan sampah yang berkapasitas besar.Di sisi lain pemerintah atau prejuru desa perlu memberlakukan awig awig mengenai sampah upacara ,dengan diberlakukannya awig awig tersebut tentu masyarakat akan jera dan sadar akan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan .Di sisi lain ada upaya untuk mengolah sampah upacara tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,seperti Biofuel. Kandungan lignin dalam sampah bunga dapat menjadi sumber material pembuatan biofuel.Upaya pengolahan sampah upacara ini berpotensi menghasilkan produk yang ramah lingkungan,mengurangi timbunan sampah upacara ,dan dapat menjadi sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk memproduksi biofuel.  +
Bali mempunyai limbah khas yang dihasilkan dari upacara keagamaan, yang disebut limbah pura. Limbah tersebut berupa sampah canang,plastik tempat canang,kwangen, dan lain sebagainya. Sampah tersebut banyak sekali terdapat di pura karena banyaknya pemedek yang tangkil ke pura. Kebersihan pura patut dilestarikan oleh para pemedek yang nangkil di pura tersebut, agar pura tetap bersih dan terlihat bagus. Untuk mengurangi jumlah sampah di upacara keagamaan, kita harusnya menggunakan sarana yang berdasar ramah lingkungan. Contoh nya jika kita akan menempatkan bunga persembahyangan, kita harusnya menggunakan wadah plastik atau barang sekali pakai. Kita bisa menggunakan bokor kecil yang terbuat dari anyaman atau bokor yang terbuat dari aluminium, agar tidak terbuang dan dapat digunakan untuk waktu yang lama. Selanjutnya jika kita sudah selesai sembahyang, sampah canang dan sisa bunga yang sudah tidak terpakai, bisa kita buang ke tempat sampah agar tidak ada sampah yang berserakan di pura. Sampah sampah organik yang berupa canang, bunga, kwangen tersebut bisa diolah menjadi pupuk kompos.  +
Sampah sudah menjadi masalah umun di masyarakat.Pada kegiatan upacara keagamaan masalah sampah ini masi susah untuk dihindari dan dihilangkan cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah ini adalah pada saat selesai melakukan kegiatan keagamaan, kita bisa membersihkan dan merapikan srana dan prasarana dan membuang sampah di tempat yang sudah ditetapkan. Dan ingat juga untuk memilah dan memilih sampah yang organik jadikan dalam satu tempat dan sampah anorganik jadikan dalam satu tempat .sehingga hal ini dapat mengurangi banyaknya sampah yang ada saat upacara keagamaan.Adapun cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah masalah sampah ini yaitu dengan menerapkan ''pungut sampah di sekitarmu'' dimana hal ini dapat dilakukan sebagai pencegahan dari banyaknya sampah yang diperoleh saat ada kegiatan keagamaan ataupun kegiatan di masyarakat.Sehingga tercapainya "'BALI'' yaitu BERSIH,AMAN,LESTARI,INDAH.  +
Bali kaya akan keindahan alam, budaya, dan seni, menjadikan wisata sebagai tujuan utama. Pariwisata membantu mendukung perputaran ekonomi lokal, namun mulai muncul dampak negatif dari overtourism, seperti: sampah menumpuk, infrastruktur tertekan, krisis air, dan pergeseran budaya. Penduduk lokal mulai merasa terganggu, mendorong pemerintah mengambil tindakan, termasuk menaikkan pajak turis. Saat ini, pajak turis hanya Rp150.000 per orang—jumlah yang masih tergolong murah. Mengingat turis asing umumnya memiliki ekonomi lebih kuat, hal ini perlu ditegaskan. Walaupun masih terasa kurang, namun kebijakan ini masih patut dinilai tepat sebagai tindakan pertama. Selain itu, pemerintah perlu menegaskan regulasi terkait ‘Hak Pakai’ bagi wisatawan asing. Banyak dari mereka memanfaatkan kepemilikan tanah dan properti, yang berkontribusi pada tekanan infrastruktur. Langkah tegas tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun kita sebagai warga lokal Bali pun diperlukan agar Bali tetap lestari dan masyarakat lokal tidak semakin terpinggirkan.  +
Persembahyangan mengandung niat tulus untuk menghormati Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan alam semesta. Namun, kegiatan suci ini sering meninggalkan timbunan sampah, terutama sampah plastik dan organik, yang meningkat saat aktivitas keagamaan di Bali. Meskipun Pergub Nomor 97 Tahun 2018 melarang penggunaan plastik sekali pakai, namun hal tersebut belum maksimal dikarenakan masih dominannya penggunaan sampah plastik diberbagai aktivitas, salah satunya saat aktivitas keagamaan di Bali. Tidak hanya pada sampah plastik, sampah organik juga meningkat saat aktivitas keagamaan seperti sampah bekas persembahyangan. Sehingga perlunya mengantisipasi permasalahan tersebut dengan cara penggunaan tas atau bokoran yang dapat dipakai ulang untuk menggantikan kantong plastik tempat persembahyangan. Selain itu, pengimplementasian teba modern untuk sampah organik akan mendukung produksi kompos, dan budidaya magot dapat menjadi solusi pengelolaan sampah organik sekaligus memberikan nilai ekonomis. Pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan/produk bernilai dan pemanfaatan bunga persembahyangan sebagai pewarna alami juga menjadi solusi sederhana dalam mengurangi sampah dari aktivitas keagamaan.  +