Property:Response text id
From BASAbaliWiki
A
Di Bali, penggunaan banner atau spanduk sekali pakai dalam upacara agama sudah menjadi kebiasaan yang umum. Banner ini sering digunakan untuk memberikan informasi terkait acara keagamaan, seperti nama upacara, tanggal, dan lokasi. Meski fungsinya memudahkan masyarakat, penggunaannya memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Banner dicetak dengan bahan dasar plastik atau vinil yang sulit terurai. Setelah upacara selesai, banner seringkali dibuang dan berakhir sebagai sampah yang mencemari lingkungan. Oleh karenanya, diperlukan kesadaran untuk mengurangi penggunaan banner sekali pakai dengan beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan atau dengan mendaur ulang banner yang telah digunakan. Banner berbahan kain juga dapat digunakan karena bisa digunakan berkali-kali untuk acara serupa. Masyarakat juga dapat beralih ke media digital sebagai pengganti banner cetak untuk penyebaran informasi. Penggunaan media sosial dan grup chat membantu mengurangi ketergantungan terhadap banner sekali pakai. Dengan alternatif tersebut, upacara keagamaan di Bali bisa tetap berlangsung dengan sakral tanpa meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan. +
Pendapat saya dalam mengoptimalkan sampah pada saat upacara agama berlangsung. Dimana, kita dapat menghimbau pengunjung yang hadir pada upacara keagamaan untuk membawa tas canang atau banten dan jika tidak mempunyai tas canang bisa menggunakan keben. Apabila masih ada yang menggunakan kresek bisa dihimbau untuk membuang tas kresek tersebut kedalam tempat sampah atau dibawa dulu untuk membungkus canang atau bunga yang sudah selesai di pakai pada saat bersembahyang. Dengan cara ini mungkin kita dapat mengoptimalkan sampah, Apabila ada kesalahan saya dalam mengemukakan pendapat saya mohon maaf dan terimakasih. +
Pulau Bali sering disebut sebagai "Pulau Seribu Pura" karena banyaknya jumlah pura yang ada. Saat melakukan upacara yadnya ada Beberapa sarana yang dibutuhkan seperti canang, bunga, dupa. Lantas setelah masyarakat selesai sembahyang pasti menghasilkan limbah berupa sampah organik dan anorganik. Hal tersebut menjadi masalah besar untuk Agama Hindu khususnya di Bali. Sudah ada solusi yang diterapkan untuk mengurangi sampah tersebut seperti menyiapkan tempah sampah menurut jenisnya (organik, anorganik, B3). Tetapi solusi tersebut belum mampu mengurangi sampah. Salah satu sampah yang banyak yaitu bunga. Bunga-bunga sisa upacara adat tersebut diambil dan digunakan untuk mendapatkan bubuk bunga kering. Lantas dicampur bubuk lem, minyak, dan wewangian alami. Dengan Mengatasi sampah bunga ini kita secara langsung dapat mengatasi sampah organik dan Dupa tersebut bisa digunakan untuk kesehatan. Hal tersebut menjadi solusi yang baik untuk mengatasi sampah upacara adat. Dupa yang didaur ulang disebut "Dupa Aromatherapi” +
Bali adalah tempat wisata yang menjadi tujuan utama turis mancanegara. Dikutip dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, turis mancanegara yang datang ke Bali semakin meningkat setelah pandemi Covid-19. Banyaknya wisatawan di tahun 2021 adalah 51 orang, tetapi di tahun 2024 semakin meningkat menjadi 6.333.360 orang yang membuat Bali terdampak Overtourism.
Hal ini menjadi racun yang seharusnya kita kritisi agar bidang yang lain tidak terdampak. Masyarakat Bali harus meningkatkan daya pengetahuannya. Mengapa seperti itu? Karena sulit jika membatasi turis datang ke Bali. Oleh sebab itu, seharusnya masyarakat Bali yang menajamkan dirinya agar tidak mudah terkena pengaruh racun dari wisatawan. Selain itu, detoksifikasi harus dilaksanakan juga oleh pemerintah. Bagaimana supaya pemerintah bisa memberikan informasi terkait norma apabila sedang berkunjung di Bali. Pemerintah harus menyiapkan sumber informasi yang interaktif dan informatif. Hal ini bertujuan agar kasus kriminal yang menjadi racun bisa dikurangi agara budaya dan tingkah laku krama Bali tidak diasimilasi oleh budaya asing. +
Jika kita berbicara tentang sampah, perlu adanya kesadaran antara pengelola dan pemedek. Pemedek harus memiliki kesadaran tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya, untuk pengelola harus mengelola sampah dengan baik. Hal yang sederhana yang dapat dilakukan adalah melarang pengunaan sampah plastik dan bisa membuat lubang biopori (kompos) di areal pura, dengan melarang penggunaan sampah plastik menjadikan pemedek menggunakan pengganti plastik yang reusable dan ramah lingkungan. +
B
Kehidupan masyarakat Bali sangat erat pada agama, adat, tradisi dan budaya. Sudah tentu tidak akan dapat dipisahkan dari upakara atau bebantenan. Menurut artikel Kementrian Agama Upakara adalah segala persembahan suci yang dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Rasanya tidak ada hari yang tidak di upacarai, dan tidak ada tempat pula yang tak di upacarai. Namun saat kita menghaturkan upakara atau banten tentu ada sisa nya yang bernama surudan atau lungsuran. Lungsuran seperti buah-buahan, daging, dan makanan bisa kita konsumsi tetapi lungsuran yang berupa jejahitan pasti akan menjadi sampah sisa. Jika sampah ini tidak diolah dengan baik maka akan menjadi masalah. Penulis sebagai seorang generasi muda mempunyai program dan siasat dengan nama “BALE KOMPOS”. Program ini adalah program yang dijalankan di setiap desa adat di Bali. Mengapa demikian? Sebab desa adat adalah lembaga yang terdekat dengan kehidupan beragama masyarakat Bali. Bale Kompos adalah tempat untuk mengolah sampah sisa upakara menjadi kompos yang bisa diolah adalah tidak berupa buah-buahan, serta jananan namun yang boleh di olah di Bale Kompos berupa jejahitan. Di Bale Kompos tidak hanya tempat mengolah sampah upakara saja, namun ada tempat yang disebut “Teba Desa” yang isinya seluruh tanaman upakara, sayuran, dan buah-buahan lokal Bali. Sampah upakara di masing-masing perumahan dan pura dikumpulkan. Namun yang diperbolehkan hanya sudah kering dan dicacah. Setiap rumah akan memiliki kartu tanda anggota dan diberi point. Jika sudah banyak memiliki point maka dapat ditukar dengan hasil tanaman yang ada di Teba Desa. Yang mengelola adalah masyarakat lokal, sehingga dapat menambah lapangan pekerjaan dan produktifitas masyarakat. Oleh karena itu, program Bale Kompos ini sangat bagus untuk membangun Desa dan mengurangi sampah upakara. +
Regulasi yang terlalu ketat dapat membuat jumlah wisatawan menurun, namun regulasi yang terlalu longgar dapat menimbulkan dampak negatif overtourism. Regulasi terhadap pengelolaan kegiatan pariwisata sangat penting untuk mengendalikan dampak negatif overtourism agar tidak mengganggu kehidupan sosial dan budaya penduduk lokal.
1. Sebagai regulator, pemerintah pusat dalam hal ini untuk mengurangi dampak negatif overtourism agar tidak mengganggu kehidupan sosial dan budaya penduduk lokal, dapat mengeluarkan regulasi pembatasan kegiatan wisatawan khususnya saat diadakan upacara keagaaman di Bali. Contoh : Regulasi bagi pengunjung ketika ada kegiataan keagamaan di pantai.
2. Desa adat dapat unjuk potensi desa wisata untuk meratakan distribusi wisatawan dan memberikan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di berbagai daerah. Berikan ruang dan libatkan seniman lokal dan pekerja pariwisata lokal agar dapat melaksanakan penampilan budaya disaat high season agar ada persebaran kunjungan.
3. Terpenting adalah memberikan edukasi tentang etika dan aturan wisatawan, karena bagaimanapun mereka adalah pengunjung dan wajib mengikuti aturan yang berlaku di daerah tersebut. +
Bali semakin tenggelam? Gelombang besar wisatawan yang datang ke Bali menyebabkan terjadi kepadatan wisatawan (overtourism). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, banyak wisatawan Mancanegara datang ke Bali mencapai 6,3 juta. Bali seperti gula yang manis direbut oleh banyak semut. Apalagi sekarang di Bali banyak terjadi permasalahan, warga pendatang saling berkelahi, wisatawan mancanegara berperilaku menyimpang dan melanggar peraturan. Tanah Bali banyak dimiliki oleh warga pendatang dan wisatawan. Apakah orang Bali sekarang senang menjual “Ibu”? Sesungguhnya tanah itu adalah pertiwi seperti seorang “Ibu” yang semestinya dijaga dan disakralkan. Sepatutnya orang Bali semakin ingat dan berbhakti dengan tanah serta pekarangan Bali. Pembangunan pariwisata di Bali sesuai dengan Tri Hita Karana dan konsep Tri Mandala yang semestinya diajegkan. Pemerataan pembangunan pariwisata diseluruh wilayah Bali sesuai dengan Tri Mandala, yaitu di Utama Mandala tempat wisata spiritual, di Madya Mandala tempat wisata budaya dan di Nista Mandala tempat mengisi segala kenikmatan duniawi. Sesungguhnya Bali sekarang sudah waktunya kembali, bangkit dan mempersiapkan diri. +
Om Swastiastu
Sebelum saya lanjut menjawab tentang pendapat saya dalam hal sampah setelah selesai beribadah , izinkan saya memperkenalkan diri nama saya I Dewa Putu Kusuma Putra, saya dari SMA N 1 Baturiti. Baiklah untuk tata cara menyikapi perihal sampah setelah selesai beribadah saya harap agar seluruh masyarakat tidak membawa sampah plastik dikarenakan akan mencemari area pura, jika sampah organik maka hendaknya dibawa pulang kembali ke rumah masing masing agar area pura tetap tertib dan asri sebagai bentuk rasa bakti kita kepada Tuhan yang maha Esa . Kalau bukan kita siapa lagi yang menyikapi hal ini, dan untuk masyarakat hendaknya tau tentang keadaan bumi kita yang banyak dipenuhi sampah plastik. Para remaja hendaknya melihat keadaan bumi yang semakin banyak dipenuhi sampah dengan demikian peran remaja haruslah mengedukasi masyarakat agar tidak menggunakan plastik sekali pakai apalagi di area pura. Tetapi jika wacana saja tidak akan membuat bumi kita bersih sehingga itu semua anggota masyarakat harus memiliki kesadaran akan keadaan bumi kita.
Demikian yang sedikit saya sampaikan, jika ada salah kata saya mohon maaf yang sebesar besarnya , saya tutup dengan parama santhi,
Om Santhi Santhi Santhi Om . +
Menilik dari kondisi Bumi yang sekarang, persoalan mengenai sampah menjadi salah satu persoalan yang sangat serius, baik itu sampah organik maupun sampah non organik yang dihasilkan setelah melangsungkan upacara keagamaan. Oleh karena itu, kita sebagai rakyat Bali harus menjaga Bali agar senantiasa asri. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi pemakaian plastik ketika kita akan melaksanakan upacara keagamaan, seperti misalnya mengganti plastik yang digunakan untuk membungkus sarana upakara dengan daun. Begitu pula ketika ingin membawa canang hindari penggunaan plastik dan gunakan bokor atau tas kain yang lebih ramah lingkungan. Sampah organik seperti canang, sampian, cemper segehan dan sarana lainnya yang sudah usai digunakan untuk persembahyangan bisa dijadikan sebagai pupuk organik dengan memanfaatkan inovasi lubang resapan biopori atau teba modern. Kemudian, buah lungsuran juga dapat dimanfaatkan menjadi campuran eco-enzym yaitu larutan fermentasi yang terbuat dari campuran buah dan sayuran yang memiliki banyak manfaat. +
Seperti yang kita ketahui, Bali adalah pulau dengan destinasi wisata impian para touris karena keindahan alam dan budaya. Namun, semakin banyak touris yang datang ke Bali menyebabkan mulai pudarnya budaya dan tradisi yang ada. Hal ini dibuktikan dengan insiden pesta kembang api di Canggu yang berlangsung saat masyarakat sedang melaksanakan upacara agama yang mencederai kesakralan budaya. Oleh karena ini, beberapa pihak mulai menyadari ancaman budaya lokal dan berupaya untuk melestarikan dan menguatkan kembali identitas budaya. Contohnya dengan cara Nangun Sat Kerthi Loka Bali dan berbagai festival budaya lainnya. Namun hal ini mendapatkan berbagai tantangan di era globalisasi ini, karena masyarakat lebih memilih beralih ke sektor pariwisata dari pada budaya lokal mereka. Karena hal ini, mari kita bersama sama ikut menjaga dan melestarikan budaya Bali, bagaimana jadinya kalau kita mengabaikan budaya kita sendiri sedangkan para touris yang datang ke Bali sangat tertarik dengan budaya kita, mari bersama sama lestarikan budaya lokal. +
Bali masuk ke dalam destinasi yang tidak disarankan untuk dikunjungi menurut fodors alasannya karena bali mengalami overtourism.
Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya seperti infrastruktur yang kurang memadai, alih fungsi lahan dan wisatawan terlalu berfokus pada bali selatan. Sedangkan bali utara, barat, timur itu masih kurang di promosi dan investasi sehingga wisatawan lebih dominan berpergian pada bali selatan. karena overtourism ini juga menyebabkan banyak konflik yang disebabkan oleh oknum turis yang membuat onar dibali, beberapa upaya yang dapat dilakukan seperti menegakkan aturan adat istiadat setempat baik tertulis maupun tidak, memberikan informasi rambu-rambu makna tempat suci oleh pengelola, dan memberikan sanksi kepada pengunjung yang melanggar aturan. semua upaya tersebut harus dilakukan dengan tegas agar dampak negatif dari overtourism dapat teratasi. +
Bali dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahun, tetapi tanpa pengelolaan yang baik, overtourism dapat menyebabkan pencemaran, kemacetan, dan hilangnya identitas budaya. Untuk menjaga keseimbangan, wisatawan harus berwisata dengan bijak, mengurangi sampah plastik, mendukung usaha lokal, dan menghormati tempat suci. Pemerintah perlu menerapkan aturan ketat terkait pembangunan hotel dan mengontrol kepadatan wisatawan. Dengan bekerja sama, Bali tetap bisa menjadi ikon pariwisata dunia tanpa kehilangan keindahan alam dan budayanya.
Semoga bermanfaat! +
Bali semakin kewalahan menghadapi overtourism. Pantai penuh sesak, sampah menumpuk, dan budaya lokal yang tergerus. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), overtourism dapat meningkatkan limbah hingga 30% dan merusak ekosistem. Thailand bahkan menutup Maya Bay pada 2018 akibat lonjakan wisatawan (UNEP, 2022). Pembatasan wisatawan bukan berarti merugikan ekonomi. World Travel & Tourism Council (WTTC) menyebutkan bahwa pariwisata berkelanjutan justru meningkatkan pendapatan daerah secara lebih stabil (WTTC, 2021). Pemerintah harus menerapkan regulasi ketat seperti pajak wisata dan kuota pengunjung. Destinasi pariwisata juga perlu didiversifikasi agar tidak hanya terpusat di satu lokasi. Kesadaran masyarakat lokal harus ditingkatkan melalui edukasi tentang dampak overtourism.
Bali bisa tetap indah jika semua pihak peduli. Saatnya bertindak demi pariwisata yang lebih berkelanjutan! +
Om swastyastu
Sampah plastik adalah sampah yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat . apalagi kalau ada acara keagamaaan utamanya Umat Hindu berbondong bondong membawa plastik sebagai tempat sarana prasarana sembahyang di kegiatan keagamaan.
Tapi adapun beberapa solusi-solusi yang digunakan untuk mengurangi sampah plastik di acara keagamaan:
Yang pertama :menggunakan daun pisang sebagai tempat bunga untuk digunakan persembahyangan
Yang kedua: menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan jika membuat Banten seperti membungkus jajanan menggunakan daun pisang.
Yang ketiga menggunakan tas kain untuk sarana prasarana Banten yang digunakan berulang agar menjaga lingkungan tetap ajeg.
Yang keempat menggunakan dekorasi di Pura dengan menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan seperti membuat penjor menggunakan bambu busung kelapa dan bahan-bahan yang lain supaya tidak membuat sampah plastik semakin banyak
Yang kelima selesai melakukan kegiatan keagamaan atau melaksanakan keagamaan kegiatan keagamaan bandeng mikirin bank sampah yang banyak di tempat di masing-masing tempat acara, setidaknya menyiapkan tempat sampah organik ataupun anorganik
Yang ke enam: membawa sampah plastik ke rumah masing-masing selesai menggunakan di kegiatan keagamaan.
Sekian pendapat singkat dari saya terkait cara mengurangi sampah plastik di acara keagamaan
Ayo jaga bumi bali
Jauh dari sampah plastik.
Karena sampah plastik membuat kita mual.
Om santih Santih Santih Om +
Bali sekarang makin macet, terutama di tempat wisata kayak Canggu, Ubud, dan Kuta. Jalanan kecil, tapi kendaraan makin numpuk—wisatawan, ojek online, rental mobil, semua tumpah ruah. Data dari Dishub bilang jumlah kendaraan naik drastis tiap tahun, tapi jalanan segitu-gitu aja. Banyak yang bilang pariwisata penting buat ekonomi, tapi kalau macet terus, siapa yang masih betah ke Bali? Mau jalan bentar aja butuh waktu berjam-jam. Solusinya? Harus ada transportasi umum yang beneran jalan, batasin kendaraan sewa, dan kasih jalur khusus buat warga lokal. Pemerintah, wisatawan, dan kita sendiri harus sadar dan ikut aturan biar nggak makin parah. Kalau dibiarkan, Bali bisa kehilangan daya tariknya. Mau perubahan? Jangan nunggu, ayo mulai dari diri sendiri!. +
Bali sekarang makin macet, terutama di tempat wisata kayak Canggu, Ubud, dan Kuta. Jalanan kecil, tapi kendaraan makin numpuk—wisatawan, ojek online, rental mobil, semua tumpah ruah. Data dari Dishub bilang jumlah kendaraan naik drastis tiap tahun, tapi jalanan segitu-gitu aja. Banyak yang bilang pariwisata penting buat ekonomi, tapi kalau macet terus, siapa yang masih betah ke Bali? Mau jalan bentar aja butuh waktu berjam-jam. Solusinya? Harus ada transportasi umum yang beneran jalan, batasin kendaraan sewa, dan kasih jalur khusus buat warga lokal. Pemerintah, wisatawan, dan kita sendiri harus sadar dan ikut aturan biar nggak makin parah. Kalau dibiarkan, Bali bisa kehilangan daya tariknya. Mau perubahan? Jangan nunggu, ayo mulai dari diri sendiri!. +
Overtourism adalah kondisi ketika jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi melebihi kapasitas tempat tersebut. Di bali, overtourism biasa terjadi di daerah pariwisata seperti canggu, kuta, dan seminyak. Berdasarkan data statistik pemprov bali, wisatawan yang datang pada tahun 2024 meningkat 20.10% dari tahun 2023. Hal ini memberikan dampak yang sangat buruk bagi kesucian pulau bali. Salah satu contohnya yakni pada saat umat hindu mengadakan kegiatan melasti kemudian kesucian upacara tersebut terganggu oleh bisingnya beach club yang ada di pinggiran pantai. Permasalahan lain yang telah terjadi yakni seperti kemacetan akibat membludaknya turis yang merental motor, rusaknya fasilitas umum akibat tingkah laku turis yang tidak etis, dan meningkatnya jumlah limbah plastik akibat meningkatnya jumlah wisatawan. Berdasarkan permasalahan tersebut, solusi yang dapat kami berikan yakni dengan meningkatkan pengelolaan limbah, memperketat kebijakan perentalan motor sehingga tidak ada turis yang menyalahgunakannya, dan memberikan sanksi yang keras kepada turis yang melakukan aksi senonoh di suatu daerah. +
Sebenarnya Bali tidak overtourism tetapi overkonsentrasi, kenapa? Karena 70% wisatawan hanya datang ke Bali selatan (Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2022), pernyataan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang menyatakan bahwa "Bali belum mengalami overtourism, melainkan hanya high season atau musim puncak kunjungan wisatawan" (Bali Post, 2023)
Cara untuk mendetokfikasi nya adalah untuk meratakan pariwisata yang ada di Bali, tidak hanya Bali Selatan tapi semua kabupaten yang ada di Bali. Dinas Pariwisata Bali juga sudah meluncurkan pola perjalanan wisatawan pada tahun 2025, Pengembangan Destinasi Wisata Alternatif (GIPI Bali), Paket Wisata Bali 3B, semua program ini bertujuan untuk memeratakan pariwisata yang ada di Bali, sebagai generasi muda kita seharusnya mendukung program ini
Mari bersatu, pemuda Bali! Majukan pariwisata Bali! +
Upaya pengurangan sampah plastik juga bisa diterapkan dlm pelaksanaan upacara keagamaan, seperti tidak lagi menggunakan kantong plastik sebagai tempat meminta air suci bagi pemedek dan bisa digantikan dengan sangku yg bisa digunakan secara terus menerus. Menyuruh para pemedek agar membawa pulang sarana persembahyangan yg sudah tidak digunakan. Pada saat membeli makanan diarea pura agar tidak meninggalkan bekas makanannya disana. Mengingatkan pemedek agar tidak menggunakan plastik untuk tempat sarana persembahyangan. Sampah canang sari yg sudah tidak dipakai bisa diolah digunakan untuk membuat pupuk organik dan memanfaatkan sampah-sampah bunga untuk campuran pembuatan dupa +