Property:Response text id
From BASAbaliWiki
M
Untuk mengatasi overturisme di Bali, ada beberapa cara yang harus dilakukan antara lain:
1. Pengelolaan Wisata yang Terarah. Mengatur jumlah wisatawan di destinasi utama dan mendistribusikan wisatawan ke tempat alternatif.
2. Promosi Wisata Berkelanjutan. Fokus pada wisata ramah lingkungan dan pelestarian budaya.
3. Pajak Pariwisata. Menggunakan pajak pariwisata untuk pelestarian alam dan pengembangan infrastruktur.
4. Edukasi Wisatawan dan Masyarakat. Meningkatkan kasadaran pentingnya menjaga kebersihan dan pengelolaan sampah yang baik dan benar.
5. Penguatan Infrastruktur. Membangun fasilitas publik dan transportasi ramah lingkungan.
6. Diversifikasi Pendapatan. Mengembangkan usaha lokal agar tidak terlalu bergantung pada sektor pariwisata.
Cara ini dapat mengurangi dampak negatif overturism yang menjadi masalah di Bali ini, supaya Bali menjadi lestari. +
Untuk mengatasi dampak buruk overtourism di Bali, langkah pertama adalah mengedukasi masyarakat lokal agar lebih sadar pentingnya menjaga keseimbangan pariwisata. Edukasi ini bisa dilakukan melalui sosialisasi di banjar, misalnya setelah gotong royong, warga diajak ngobrol santai tentang bagaimana menjaga pariwisata tetap sehat. Selain itu, di setiap ulang tahun Seka Truna Truni, bisa diadakan lomba kesadaran pariwisata agar anak muda lebih peduli. Di dunia digital, khususnya generasi muda Bali juga bisa berkontribusi dengan membuat media atau berita edukatif tentang perkembangan dan isu pariwisata di Bali.
Setelah masyarakat teredukasi, langkah selanjutnya adalah bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk mendorong pembuatan UU yang mengatur pariwisata berkelanjutan agar para wisatawan tidak semena mena dan bisa menghormati aturan dan budaya lokal di Bali. Dengan regulasi yang jelas, masyarakat dan wisatawan akan patuh dan ikut menjaga Bali. Jadi, daripada diam, lebih baik "berperang" bersama pemerintah dengan cara elegan demi masa depan Bali yang lebih baik. +
Overtourism menjadi racun di Bali akibat tidak terkendali. Jika wisatawan dibatasi, sebagian besar masyarakat akan kehilangan pekerjaan akibat perekonomian yang bergantung pada sektor pariwisata. Untuk menangani hal tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti:
• Promosi wisata Bali utara, timur, dan barat: overtourism sebenarnya hanya terjadi di Bali bagian selatan seperti Kuta dan Jimbaran, serta sebagian wilayah Ubud. Pemerintah dapat mempromosikan wisata Pantai Lovina di bagian utara, Taman Ujung di bagian timur, dan Taman Nasional Bali Barat yang tidak kalah indah dari Bali selatan.
• Peningkatan sarana transportasi: transportasi umum seperti Trans Metro Dewata seharusnya tetap dioperasikan, disertai pengembangan rute hingga seluruh Bali, perbaikan infrastruktur jalan, dan promosi yang baik kepada wisatawan sehingga dapat mengurangi kemacetan.
• Pengembangan wisata berbasis lokal: memastikan wisata di Bali dikelola oleh penduduk lokal, bukan investor asing, sehingga racun overtourism bisa menjadi vitamin overtourism untuk meingkatkan perekonomian bagi masyarakat Bali. +
Bali, permata pariwisata dunia, kini menghadapi tantangan besar akibat overtourism yang mengancam alam dan budaya. Untuk mendetoksifikasi “racun” ini, diperlukan solusi inovatif dan berkelanjutan. Pertama, pengelolaan kuota wisatawan harus diterapkan dengan bijak agar jumlah pengunjung tidak melebihi daya dukung lingkungan. Kedua, diversifikasi destinasi penting untuk mengurangi kepadatan di daerah populer dengan mengembangkan desa adat dan ekowisata. Ketiga, terapkan Green Badge Tourism, penghargaan bagi wisatawan yang memilih penginapan ramah lingkungan, transportasi berkelanjutan, atau berkontribusi dalam konservasi. Keempat, jalankan Quota Tax System, pajak progresif yang meningkat seiring frekuensi kunjungan ke destinasi populer untuk mendorong eksplorasi tempat lain. Selanjutnya, dukungan terhadap usaha pariwisata berkelanjutan dari komunitas lokal harus diperkuat, sehingga keuntungan ekonomi dapat dirasakan secara merata. Dengan pendekatan multifaset ini, Bali bisa tetap lestari, menawarkan pengalaman autentik, dan menjaga keseimbangan antara pariwisata serta kelestarian budaya. +
Melestarikan pulau Bali yang sakral dan berkelanjutan telah dipupuk melalui tempat wisata dan budaya yang indah. Pulau Bali telah diakui karena situs budaya dan pariwisatanya yang indah yang sangat menarik bagi pengunjung. Akibatnya, banyak wisatawan yang suka berkunjung ke Bali. Kehadiran pariwisata di Bali sangat bermanfaat bagi masyarakat Bali. Namun, ada juga indikasi bahwa tidak baik bagi tempat-tempat suci, yaitu pura. Situasi ini menyebabkan wisatawan berperilaku buruk terhadap adat istiadat Bali dimana ada turis yang berjalan menuju tempat suci di Bali tanpa menggunakan pakaian atau telanjang. Indikasi tersebut harus dicegah, karena pemerintah provinsi Bali di sektor pariwisata akan memberlakukan regulasi yang ditujukan kepada wisatawan, didukung oleh keamanan desa adat (pecalang) untuk menjaga keselamatan mereka. Bali memang pulau yang sangat indah dengan budaya yang sangat baik, itulah sebabnya banyak wisatawan yang datang, namun kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa sebagai masyarakat Bali, kita tidak boleh mengabaikan adat istiadat yang dihormati oleh nenek moyang kita. +
Teba modern merupakan sebuah inovasi dalam pengelolaan sampah organik yang dihasilkan dari kegiatan keagamaan. Teba modern adalah sistem pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar pura untuk membuat kompos. Sistem ini dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi timbunan sampah sisa kegiatan keagamaan, seperti sampah daun, bunga, dan sisa makanan. Dengan menggunakan teba modern, sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman. Hal ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah yang dibuang, tetapi juga menghasilkan pupuk organik yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah. Selain itu, teba modern juga dapat menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah pencemaran akibat penumpukan sampah.
Penerapan teba modern sebagai upaya mengurangi sampah sisa kegiatan keagamaan dapat menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan melibatkan masyarakat, teba modern dapat menjadi praktik yang ramah lingkungan dan bermanfaat +
Berbicara tentang masalah sampah, saat ini banyak sekali sampah yang berserakan saat melakukan upacara keagamaan baik di Pura ataupun di rumah, terutama sampah plastik. Jadi apa solusi yang bisa diambil agar lingkungan rumah atau tempat ibadah tetap bersih atau bersih? Saya pikir kita bisa melakukannya dengan cara ini:
1. Lakukan 3R
a. Reduce (Mengurangi):
- Mengurangi atau meminimalisir penggunaan plastik, sebagai gantinya ketika kita membuat makanan, makanan yang kita masukkan ke dalam makanan tersebut dapat digunakan sebagai makanan yang dibungkus dengan don atau bahan organik lainnya. - Saat meminta tirta di Pura, sebaiknya kita membawa wadah tirta/genah tirta (toples kecil) dari dalam rumah, agar tidak menggunakan plastik lagi. b. Reuse (menggunakan kembali) - Menggunakan kembali/menggunakan kembali. Sebaliknya, kita bisa membawa botol minuman (Tumbler) agar tidak membeli lagi, jika membeli pasti akan menghasilkan sampah plastik. - Kita bisa menggunakan tas ramah lingkungan sebagai pengganti plastik karena tas itu bisa digunakan berulang kali. c. Recycle (Mendaur Ulang) - Mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Sebagai gantinya ketika ada pekerjaan rumah atau di dalam rumah, ketika ada buah-buahan yang mengandung benih, kulit buah tersebut dapat dikumpulkan dan dibuat eco enzyme yang memiliki banyak manfaat seperti: untuk penyubur tanah, tanaman, digunakan sebagai pembersih alami, pupuk organik dan lain sebagainya. 2. Menciptakan teba modern di Pura atau di rumah. Ini digunakan untuk menyimpan sampah organik, seperti canang, buah-buahan, bunga, daun, dan sampah organik lainnya, sampah organik tersebut akan terakumulasi di dalam tabung ini. Selain itu, teba ini dapat digunakan sebagai tempat beristirahat/duduk. 3. Memberikan penyuluhan & pendidikan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan apa yang telah dijelaskan di atas. 4. Membangun komunitas pengelolaan sampah. +
Kemajuan zaman membuat anak muda, khususnya pemuda Bali sangat bahagia ketika mereka mendapatkan uang. Maka dari itu banyak ide menjual tanah Bali agar mendapat uang. Uang menjadi raja jika mempunyai uang pasti banyak yang hormat layaknya seorang raja. hati yang sombong membuat kita lupa diri seperti orang mabuk. Mabuk karena uang, mabuk kehormatan, karena mempunyai banyak uang. wisatawan yang datang siap untuk membeli Bali karena hanya dengan mengeluarkan beberapa dolar saja mereka dapat membeli Bali, itulah sebabnya saat ini sudah ada beberapa tempat di Bali yang mengganti nama mereka sesuai dengan nama negara tempat wisatawan yang membeli. Jika Bali dijual apakah yang akan terjadi dengan tanah kami? Elokkah kita menjadi tamu di Tanah air kami sendiri? oleh karena itu marilah kita bersama-sama menjaga tanah Bali kita agar selalu tetap lestari.
"Jangan Hanya Dinikmati, Tapi Juga Dilindungi" - Budaya dan alam Bali bukan hanya sekedar objek wisata, namun merupakan warisan yang harus dilindungi - +
Tanggapan saya terhadap pertanyaan ini, kita harus mempunyai tanggung jawab kepada lingkungan sekitar dan tidak membuang sampah sembarangan +
N
Bali mengalami masalah besar, seperti sarang madu manis yang diinginkan oleh banyak orang, namun kedamaian dan ketertiban di Bali semakin menurun, tujuan ekonomi yang didasari oleh pariwisata seharusnya menghasilkan kemakmuran serta moderenisasi di Bali, namun yang terjadi malah sebaliknya. Bali sekarang menemui bahaya yang sangat besar, banyak keluhan sosial dan hukum yang terjadi disebabkan kurangnya pengawasan kepada para wisatawan yang semakin meningkat jumlahnya. Jika diperhatikan salah satu yang menyebabkan permasalahan di pulau Bali adalah keberadaan club malam yang tidak diperhatikan dengan tegas. Banyak para pengunjung yang tidak mampu mengendalikan pikirannya karena sudah dipengaruhi alkohol dan bahkan narkoba. Keberadaan narkoba di Bali yang semakin meningkat membuat ada wisatawan yang memproduksi narkoba seperti yang baru baru ini viral di Desa Tibubeneng Badung. Pemerintah harus serius berusaha memperhatikan dan mencegah peredaran narkoba di Bali. Salah satu upaya yang patut untuk diadakan kembali itu adalah acara Sosialisasi oleh Pemerintah dan juga KIPEM supaya tertib para masyarakat yang datang ke Bali +
Pariwisata di Bali, meskipun memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi, telah menghadirkan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan budaya sehingga membutuhkan solusi yang serius.Untuk mengatasi dampak negatif pariwisata berlebihan di Bali, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Pertama, pembatasan jumlah wisatawan melalui penerapan kuota atau sistem booking untuk destinasi wisata tertentu dapat membantu mencegah kerusakan lingkungan. Kedua, pengelolaan sampah yang lebih efisien harus diperkenalkan, termasuk peningkatan fasilitas daur ulang dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Ketiga, edukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan budaya lokal harus dilakukan secara intensif, baik melalui kampanye maupun di setiap destinasi wisata. Keempat, memberdayakan komunitas lokal dalam pengelolaan pariwisata, sehingga mereka mendapat manfaat langsung tanpa mengorbankan tradisi dan budaya mereka. Terakhir, penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan dan pengabaian budaya sangat diperlukan untuk memastikan keberlanjutan pariwisata yang ramah lingkungan. +
Negligence in giving alms or “Beryadnya” is caused by taking it for granted and not making the effort. +
“Ulah elah, alih aluh” sama seperti praktis, ekonomis dan cepat. Di era saat ini diibaratkan seperti lautan tak bertepi, perkembangan globalisasi tak terbatas. Istilah tersebut digunakan sebagai dasar oleh masyarakat Bali dengan melaksanakan budaya Bali yang bernafaskan Hindu dengan konsep dasar Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana ini terlihat sekali disetiap aktivitas masyarakat Bali ketika melaksanakan yadnya. Yadnya yang dilaksanakan sudah pasti menggunakan sarana atau media yang dikenal dengan istilah upakara. Banyak hal yang didasari oleh ucapan ulah, elah, alih, aluh, tersebut ketika melaksanakan upacara dan membuat upakara atau banten, menyebabkan banyak yang tidak peduli seperti apa kehidupan yang akan mendatang jika terus menerus menggunakan sarana-sarana yang tidak ramah lingkungan. Memang saat ini semua terasa mudah namun akibatnya akan diwariskan kepada keturunan-keturunan kita dimasa mendatang.
Maka dari itu, mari bersama-sama kita peduli agar seluruh masyarakat Bali kembali belajar menggunakan segala sesuatu yang ramah lingkungan dalam melaksanakan yadnya. Astungkara jalan tersebut dapat mengatasi masalah mengurangi sampah atau limbah disetiap upacara yadnya yang diselenggarakan. +
Ring aab jagat sane serba modern puniki, semua aspek kehidupan mengalami perubahan. Termasuk juga dalam melakukan aktivitas keagamaan, dalam komponen haturan sesajen sudah banyak menggunakan makanan makanan modern yang dikemas rapi dengan plastik. +
Tokoh A: Sebentar lagi tahun 2025, masih saja ada yang buang sampah sembarangan, bahkan di area Pura
Tokoh B: Kenapa, sih? Marah-marah terus. Nanti ibadahmu ngga diterima sama Tuhan, loh.
Tokoh A: Bagaimana bisa pikiran bersih dan tenang kalau kotor begini? Sampah berserakan di mana-mana
Tokoh B: Sudah, jangan marah-marah. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Yuk kita pungut dulu sampah-sampah ini sambil diskusi tentang solusi-solusi yang bisa kita tawarkan kepada masyarakat
Tokoh A: Berarti kita mungutin sampah dulu, nih?
Tokoh B: Iya, aku selalu bawa kantong kok. Untuk jaga-jaga kalau menghadapi hal seperti ini. Ayo, pungut saja biar bersih.
Tokoh A: Wah, kok jadi mungutin sampah orang begini, ya.
Tokoh B: Salah satu solusi permasalahan ini adalah dengan meningkatkan kualitas SDM secara bertahap. Kalau tidak, pasti akan begini terus. Kita susah payah memungut sampah, tapi akan ada lagi orang yang membuang sampah sembarangan. Peningkatan kualitas SDM bisa dengan mengadakan workshop mengenai sampah anorganik yang bisa diolah menjadi kerajinan tangan. Sementara sampah organic bisa diolah menjadi kompos atau eco enzym. Setiap KK harus mengirim perwakilan untuk mengikuti workshop.
Tokoh A: Kalau nanti SDM berkualitas sudah terbentuk, perlu ada tindakan lanjutan. Sarana dan prasarana harus mampu mengakomodasi ide baik dari SDM berkualitas itu. Misalnya, sampah dapat dibagi dua, sampah organic dan anorganik. Di setiap pura harus kita sediakan tempat sampah sesuai dengan perbedaan jenisnya sehingga memudahkan kita dalam memilah sampah. Selain itu, masyarakat wajib membuat teba modern (bio pori) di rumah maupun tempat ibadah.
Tokoh B: Aku Setuju! Yang tidak kalah penting, Pemerintah Desa harus menghubungkan masyarakat dengan pengepul sampah plastic agar sampah-sampah itu tidak hanya menjadi residu, masyarakat juga mendapatkan penghasilan tambahan lewat pemilahan sampah.
Tokoh A: Benar sekali. Aku sepakat. Ternyata dengan mengendalikan emosi dan amarah, lewat diskusi seperti ini kita dapat menghasilkan ide serta solusi. Apa yang harus dilakukan, di mana harus membuang sampah. Kalau hanya masyarakat yang bicara, aku rasa ide ini tidak akan didengar oleh pemerintah. Lebih baik kita berkolaborasi langsung dengan pemerintah terdekat (Pemerintah Desa) biar nanti Kepala Desa yang melanjutkan aspirasi kita kepada pemerintah di tingkat yang lebih tinggi. Ayo kita hubungi Kepala Desa sekarang.
*SAMPAH YADNYA PADA UPACARA KEAGAMAAN DI BALI*
OM Swastiastu, nama saya I Kadek Kevin Jaya Wiarsa , dari kelas Xl Kuliner B3 SMK Negeri 3 Denpasar. Kalian tahu tidak apakah yang akan kita bahas pada kali ini??? ,, kita akan membahasa Sampah Yadnya Pada Upacara Keagamaan di Bali ,, sampah yadnya hampir 80% bersumber dari bahan organik dan sisanya bersumber dari sampah anorganik seperti kertas dan plastik,,kalian pernah berfikir tidak sampah yadnya pada upacara Keagamaan itu akan di bawa kemana pada akhirnya? apakah akan di buang begitu saja atau akan kalian manfaatkan?jadi ini pendapat saya mengenai sampah tersebut yaitu yang pertama membuat nya menjadi pupuk organik dengan cara membuat kubangan pada tanah dan memasukan sampah sampah yadnya tersebut dengan catatan tidak memasukan sampah anorganik , setelah itu kalian kubur sampah yadnya organik tersebut lama kelamaan sampah itu akan berubah menjadi pupuk organik yang membuat lahan tanah di area itu menjadi subur ,jika kalian ingin bercocok tanam di area tersebut kemungkinan akan subur karena dampak positif dari sampah yadnya yang berubah menjadi pupuk organik dan kalian dapat juga mengolah sampah yadnya menjadi pakan ternak seperti babi,sapi dan hewan ternak lainnya ,, lalu pendapat saya yang kedua yaitu dengan mengolah sampah sampah bunga menjadi dupa aromaterapi dengan mengeringkan bunga dan menambah pewangi alami lalu di cetak jadilah dupa aromaterapi yang kalian dapat pakai sendiri atau kalian menjadi itu sebagai sumber penghasilan.
Jadi kesimpulan adalah sampah yadnya merupakan permasalah sampah di Bali yang sangat memprihatinkan. Dengan demikian sampah yadnya pada upacara Keagamaan di Bali dapat kita manfaatkan menjadi pupuk organik,pakan ternak dan dupa aromaterapi,bahkan bisa menjadi sumber penghasilan. Sekian pendapat saya mengenai sampah yadnya pada upacara Keagamaan di Bali, terima kasih ,Om Shanti Shanti Shanti Om
+
Kelestarian budaya dan lingkungan harus menjadi prioritas utama ditengah gempuran pariwisata. Pariwisata Bali, yang menjadi tulang punggung ekonomi, kini terancam oleh dampak negatif wisatawan asing. Langkah tegas diperlukan untuk melindungi warisan budaya dan lingkungan Bali. Overtourism memicu berbagai masalah seperti pelecehan budaya, kemacetan lalu lintas, penumpukan sampah plastik dan tindak kriminal. Oleh karena itu, perlu ada pembatasan jumlah wisatawan yang datang ke bali, peningkatan harga tiket, dan edukasi wisatawan tentang budaya dan adat istiadat Bali. Beberapa pihak mungkin berpendapat bahwa pembatasan wisatawan akan mengurangi pendapatan. Namun, pariwisata yang berkelanjutan dan berkualitas akan memberikan manfaat jangka panjang yang lebih besar bagi Bali. Pemerintah Bali, masyarakat lokal, dan wisatawan harus bekerja sama untuk melindungi Bali. Mari kita dukung pariwisata yang bertanggung jawab, menghormati budaya dan lingkungan Bali. Mari kita pastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati keindahan dan keunikan pulau dewata ini. +
O
Agama Bali mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan alam dan menghormati semua ciptaan Tuhan. Sampah merupakan bentuk ketidakharmonisan dengan alam dan dapat mencemari lingkungan. Berikut adalah cara mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan di Bali:
1. Upacara:
Sesaji Ramah Lingkungan: Gunakan bahan alami seperti daun pisang, bambu, bunga, dan buah-buahan untuk sesaji. Hindari penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan sintetis lainnya.
Pakai Wadah Tradisional: Gunakan wadah tradisional seperti besek, anyaman bambu, atau daun pisang untuk menyimpan sesaji.
Mengelola Sampah: Pisahkan sampah organik dan anorganik setelah upacara. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang.
Mengatur Sampah Sesaji: Gunakan tempat sampah khusus untuk sampah sesaji dan buang di tempat yang tepat, bukan di sungai atau laut.
2. Perayaan Keagamaan:
Dekorasi Ramah Lingkungan: Gunakan bahan alami seperti bambu, daun pisang, dan bunga untuk dekorasi. Hindari penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan sintetis lainnya.
Pakai Wadah Ramah Lingkungan: Gunakan wadah tradisional seperti besek, anyaman bambu, atau daun pisang untuk makanan dan minuman.
Pakai Alat Makan Ramah Lingkungan: Gunakan alat makan dari bahan alami seperti bambu atau daun pisang.
Mengelola Sampah: Pastikan tersedia tempat sampah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik.
3. Kegiatan Keagamaan Lainnya:
Pakai Bahan Ramah Lingkungan: Gunakan bahan alami seperti kayu, bambu, dan daun pisang untuk membuat alat-alat keagamaan.
Pakai Energi Terbarukan: Gunakan energi terbarukan seperti tenaga surya untuk penerangan di tempat ibadah.
Kampanye Peduli Lingkungan: Adakan kampanye peduli lingkungan dalam kegiatan keagamaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
4. Peran Pemangku dan Pandita:
Jadilah Teladan: Pemangku dan pandita dapat menjadi teladan dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Mengajarkan Ajaran Ramah Lingkungan: Mengajarkan ajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Mengelola Paké Bahan Ramah Lingkungan: Mengelola kegiatan keagamaan dengan menggunakan bahan ramah lingkungan.
5. Peran Masyarakat:
Aktif: Masyarakat dapat aktif dalam mengelola sampah dengan memilah sampah, mendaur ulang, dan menggunakan bahan ramah lingkungan.
Jadilah Duta Lingkungan: Masyarakat dapat menjadi duta lingkungan dan menyebarkan pesan peduli lingkungan kepada masyarakat lainnya.
Dengan menerapkan cara-cara ini, kita dapat mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan di Bali dan menjaga kelestarian alam.
Catatan:
Ajakan untuk mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan harus disampaikan dengan bijaksana dan penuh hormat.
Penting untuk memahami bahwa setiap tradisi memiliki nilai dan makna yang berbeda.
Upayakan untuk menemukan solusi yang seimbang antara menjaga tradisi dan menjaga kelestarian alam.
Kembali pada warisan para leluhur, dari dulu sudah diwariskan disaat membuat alat upacara tidak ada yang menggunakan bahan selain yang diambil dari alam, yang pasti disaat selesai semua kembali baik terurai. Jika untuk tempat sudah dari dulu juga ada tempat berupa anyaman seperti sok, wanci, keranjang, keben dan lain sebagainya yang tidak berasal dari bahan plastik, yang pasti tidak mematikan alam atau lingkungan kita, mari ber-upacara dan membuat alat upacara jangan menggunakan plastik yang memunculkan hal buruk di lingkungan kita dan sampah tersebut tidak bisa busuk atau terurai selain bahan bahan dari alam yang alami +
Upaya kita untuk mengurangi sampah di pura saat ada upacara keagamaan:
1. Menerapkan aturan tidak boleh membawa plastik ke area pura agar meminimalisir sampah plastik yang menumpuk dan berserakan karena jika semua orang menggunakan atau membawa plastik ke pura otomatis plastik tersebut hanya akan digunakan sekali dan berakhir menjadi sampah.
2. Menggunakan bokor untuk wadah bunga atau canang karena tidak akan menimbulkan sampah dan dapat digunakan berulang-ulang kali.
3. Menggunakan tas kain sebagai pengganti plastik untuk membawa banten, canang, atau pun peralatan mebakti hal tersebut akan mengurangi sampah plastik yang ada dipura.
4. Menggunakan sebuah cup yang berisikan tutup untuk wadah tirta dari pura untuk mengurangi penggunaan plastik kiloan yang biasanya digunakan untuk wadah tirta.
5. Untuk sampah organik seperti bekas bekas canang bisa kita jadikan kompos yang nantinya akan berguna sebagai pupuk untuk tanaman yang ada di areal pura.
6. Pedagang yang ada disekitaran pura juga harus bisa menyesuaikan agar tidak menggunakan plastik untuk membungkus makan atau minuman dan menjaga areanya agar selalu bersih.
Tentunya hal tersebut dapat tercapai asal ada kemauan dari kira sendiri untuk selalu menjaga kebersihan suatu area serta selalu mengingatkan satu sama lainagar dapat mengurangi sampah plastik dan menjaga lingkungan. +
aktivitas keagamaan sering kali melibatkan penggunaan barang barang seperti pernak pernik, kertas, plastik yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber sampah. selain itu, kesadaran masyarakat juga masih sangat rendah dalam permasalahan sampah di lingkungan dan penyebab adanya dan terjadinya pencemaran sampah juga dari manusia atau masyarakat itu sendiri.
dan dengan adanya masalah pencemaran sampah pasti ada cara cara dalam menanggulangi permasalahan pencemaran tersebut, yaitu
pertama, menggunakan tas kain sebagai pengganti tas plastik untuk kegiatan sehari hari maupun dalam kegiatan keagamaan seperti untuk membawa banten,wadah canang dan bisa digunakan sebagai wadah untuk mengumpulkan sampah agar menjadi satu lalu dibuang di tempat sampah sesuai dengan jenis sampahnya yang bersifat organik atau nonorganik tanpa membuang tas kainnya karena itu bisa digunakan kembali. hal ini juga dapat menghemat biaya dalam pembelian plastik dan tentunya dapat mengurangi sampah plastik pada lingkungan keagamaan dan juga pada lingkungan sosial.
kedua, yaitu penyediaan tempat sampah yang terpisah jenisnya antara organik dan non organik, agar memudahkan dalam kegiatan proses pendaur ulangan dan juga menempatkan tempat sampah yang tidak jauh dengan pemukiman masyarakat karena kalau tempat sampah tersebut jauh sudah dipastikan orang orang akan malas berjalan dan memilih untuk membuang sampah sembarangan karena berpikiran bahwa sudah ada yang bertugas untuk membersihakan sampah di pura maupun tempat lainnya.
ketiga, yaitu mengurangi penggunaan kertas dan plastik sekali pakai pada kegiatan perkonsumsian di pura karena hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran sampah terus menerus dan pada penggunaan barang yang berbahan kertas yang berlebihan dan kertas itu terbuat dari pohon kita secara tidak langsung membunuh alam kita sendiri dan membuat terjadinya kelangkaan.
yang terakhir yaitu memberi edukasi kepada masyarakat bahwa sangat penting menjaga kebersihan lingkungan terutama pada lingkungan keagamaan atau tempat suci, karena kalau kita sembahyang dengan keadaan lingkungan yang kotor dengan banyaknya sampah yang berserakan akan membuat kita tidak nyaman dalam kegiatan persembahyangan dan hal tersebut dapat mengganggu kesehatan kita, jadi marilah kita bersama sama menjaga kebersihan lingkungan kita dan marilah mulai meningkatkan kesadaran kita mengenai masalah pencemaran sampah pada lingkungan sosial maupun keagamaan.
terlepas pada dampak negatif sampah juga dapat berdampak positif bagi lingkungan jika di olah dengan baik. sampah dapat diubah menjadi barang kreatif yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi lingkungan maupun masyarakat, sampah organik yang bisa dijadikan sebagai kompos untuk membantu penyuburan tanah di lingkungan.
sekian dari saya semoga dengan ini masyarakat menjadi sadar untuk selalu membuang sampah pada tempatnya dan selalu menjaga lingkungannya. marilah kita manjadi masyarakat yang kreatif dan menjaga bumi beserta lingkungan bersama sama