Property:Response text id
From BASAbaliWiki
R
Besakih viral karna tempat sembahyang dan tempat pariwisata, tetapi tahun lalu dapat viral karna sampahnya banyak, dan saya bertanya, bagaimana cara membersihkan sampah yg banyak, dan di mana dibuang sampah itu +
S
Bali adalah pulau dengan destinasi wisata yang bertaraf internasional. Berdasarkan data Pusat Statistik Provinsi Bali, sebanyak 503.194 wisatawan mancanegara mengunjungi Bali pada bulan April 2024. Namun, lonjakan wisatawan yang tidak terkendali memicu tantangan serius, seperti kemacetan, kerusakan lingkungan, dan tekanan terhadap budaya lokal.Jika dibiarkan, maka dampak negatif ini dapat merusak daya tarik Bali sebagai destinasi unggulan dan mengancam keberlanjutan industri pariwisata.
Menurut saya, “Smart Bali Access” adalah solusi yang inovatif dan efektif untuk mengatasi overtourism melalui gerbang digital berbasis sustainability score. Sistem ini memastikan hanya wisatawan dengan perilaku bertanggung jawab yang dapat mengakses destinasi populer. Dengan menganalisis riwayat perjalanan, jenis akomodasi, dan pola konsumsi wisatawan yang telah melengkapi profilnya, sistem akan memberikan skor tinggi dan akses lebih luas bagi wisatawan yang memiliki riwayat perjalanan berkelanjutan. Smart Bali Access mendorong wisatawan lebih bertanggung jawab sehingga pariwisata Bali tetap berkembang tanpa mengorbankan lingkungan dan budaya lokal. +
Sebuah penelitian terbaru dari Bali Partnership menunjukkan bahwa timbulan
sampah di Pulau Bali mencapai 4.281 ton per hari. Sebesar 60% dari total sampah
tersebut merupakan sampah organik, 20% sampah plastik, dan sisanya terdiri dari
kertas, logam, gelas dan sampah dari Pura. Pulau Bali yang memiliki julukan
Pulau Seribu Pura juga merupakan salah satu kontributor sampah di TPA. Jenis
sampah dari tempat suci Pura sebagian besar adalah sampah dari sisa kegiatan
upacara adat. Sekitar 3 juta umat Hindu yang melakukan persembahyangan di
Pura juga turut berpengaruh terhadap produksi sampah sisa upacara Peningkatan produksi sampah tersebut belum diikuti dengan upaya pengelolaan
sampah yang sesuai. Sehingga, sampah dari Pura umumnya dikumpulkan dan
diangkut ke TPA untuk ditimbun bersama jenis sampah lainnya. Pemilahan yang
dilakukan di rumah tangga juga tergolong rendah, sehingga sampah canang masih
tercampur dengan sampah lainnya. secara sederhana di rumah masing-masing. Sedangkan
penanganan sampah dilakukan dengan cara mengolah sampah secara sistematis
dan terintegrasi, mulai dari pemilahan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan,
pengolahan, hingga pemrosesan akhir sampah. Permasalahan yang masih terjadi
adalah masih tercampurnya sampah dari sumber sampai ke TPA, sehingga
sebagian besar sampah yang seharusnya bisa diolah namun berakhir di TPA.
Begitu juga dengan sampah canang, sampah yang terkumpul di pura atau rumah
tangga masih tercampur dan tidak dipilah, namun dikumpulkan dan langsung
diangkut ke TP Sebagai bagian dari budaya Bali, sesajen berupa bunga, daun, buah-buahan dan
bambu disajikan hampir di setiap upacara adat. Beribadah merupakan cara hidup
masyarakat Bali sebagai bagian dari tiga prinsip penyebab kebahagiaan atau Tri
Hita Karana. Beribadah atau Parahyangan adalah wujud hubungan yang
harmonis antara manusia dengan Tuhannya. Kegiatan tersebut dilakukan di
beberapa hari suci, seperti bulan purnama, bulan mati, upacara hari pengetahuan,
dan sebagainya. Persembahan pada umumnya terdiri dari bunga, daun, buah-
buahan, kelapa, dan bahan alami lainnya.
Pengolahan sampah sisa upacara adat yang Sebagian besar adalah sampah organik
telah dilakukan dengan melakukan pengomposan. Komposisi sampah upacara
adat yang didominasi oleh bahan organik, memang sangat potensial untuk
dijadikan kompos.
Masalah sampah di Bali tidak bisa di anggap remeh,mengapa demikian?saya akan memberikan pendapat saya mengenai hal ini.dari dulu, Masyarakat Bali di kenal sangat sederhana namun memiliki jiwa spiritual tinggi.hal ini menyebabkan masyarakat Bali kuno(tempo dulu) Sangat menjaga kebersihan,
Kususnya di areal suci atau pura.karna masyarakat Bali Tempo dulu sangat mempercayai Tuhan,beda dengan sekarang, masyarakat Sekarang bisa saya sebut dengan (STER) Spiritual tinggi Etitut rendah.
"Mengapademikian"
Bisa kita lihat sekarang,di berbagai pura yang ada di Bali,pasti ada sampah khususnya di pojok pojok pura,ini karna, mayoritas masyarakat kita tidak peduli akan kebersihan pura, Mereka hanya fokus berdoa ke pada tuhan tanpa memperhatikan lingkungan.tentu ini salah,karna dalam konsep Hindu,kita harus menyetarakan antara manusia dengan,tuhan,dan lingkungan,atau di kenal dengan Trikayaparisudha.lalu"bagaimana cara kita mengurangi sampah dalam setiap aktivitas ke Agamaan? sebenarnya,hanya ada satu cara,yaitu dari kita sendiri, introspeksi diri, sadarkan diri bahwa apa yang kamu lakukan itu salah,membuang sampah itu salah.
Sekian dari saya, terima kasih,om Santi santi santi om. +
Mengurangi sampah dalam aktivitas keagamaan bukan hal yang mudah. Kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan upacara dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Upacara besar sering menghasilkan sampah plastik dan organik yang terbuang. Selain itu, makanan dari banten sering kali menjadi sampah.
Cara mengurangi sampah adalah dengan melaksanakan upacara menggunakan bahan-bahan alami yang dapat terurai, seperti daun janur, tipat, dan kelabang yang tidak menggunakan plastik. Menggunakan botol dan gelas yang dapat dipakai kembali juga membantu mengurangi sampah plastik saat piodalan dan upacara.
Yang baik, pengelolaan sampah dilakukan dengan memilah antara sampah organik dan non-organik, baik di pura maupun di rumah. Seperti mengolah sisa banten yang layak untuk dibuat menjadi pupuk organik. Selain itu, menyelenggarakan upacara yang sederhana juga merupakan bentuk bhakti tanpa menciptakan sampah yang berlebihan. +
Bali adalah surga dunia, tapi apakah kita akan membiarkannya rusak karena overtourism? Kemacetan, sampah yang menumpuk, dan budaya yang terpinggirkan adalah tanda yang harus kita dengar. Kita tidak bisa hanya menikmati keindahan Bali tanpa menjaga keseimbangannya. Pemerintah harus berani bertindak dengan membatasi jumlah wisatawan melalui pajak turis dan kuota di tempat-tempat padat. Wisatawan juga perlu diarahkan untuk mengeksplorasi keajaiban tersembunyi Bali dengan mempromosikan destinasi alternatif. Jangan biarkan hanya investor besar yang menikmati keuntungan, masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dari pariwisata lewat homestay. Lingkungan juga harus kita lindungi dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperbaiki pengelolaan sampah, dan mendorong penggunaan transportasi umum yang ramah lingkungan. Yang terpenting, wisatawan harus belajar menghormati budaya Bali, bukan sekadar datang untuk berfoto. Bali bisa tetap menjadi destinasi unggulan dunia, tapi hanya jika kita bergerak sekarang. Jangan tunggu sampai terlambat, saatnya kita semua bertanggung jawab agar Bali tetap menjadi destinasi unggulan dunia. +
Bali, surga dunia dengan keindahan alam dan budaya, kini menghadapi ancaman serius: overtourism. Kemacetan, sampah menumpuk, sumber daya alam yang terkuras—ini semua adalah racun yang menggerogoti keindahan Pulau Dewata. Faktanya, pariwisata di Bali terus meningkat, salah satu yang tercatat pada bulan Juni 2024 kenaikan bertambah sebanyak 7.24% dari bulan sebelumnya (sejumlah 518.819). Jika tidak segera ditangani, Bali bisa kehilangan pesonanya.
Namun, kita bisa mendetoksifikasi racun ini! Mulailah dengan menjadi wisatawan yang bertanggung jawab: hormati budaya lokal, kurangi penggunaan plastik, dan dukung ekonomi warga dengan memilih produk serta jasa lokal. Pemerintah dan pelaku wisata juga harus membatasi jumlah wisatawan di kawasan tertentu dan menerapkan pariwisata berkelanjutan.
Bali bukan hanya destinasi, tetapi rumah bagi banyak orang. Mari kita jaga bersama, agar keindahannya tetap lestari bagi generasi mendatang. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi? +
Jika kita ingin Bali tetap menjadi surga wisata yang indah dan berkelanjutan, kita harus segera bertindak untuk mendetoksifikasi overtourism. Terlalu banyak wisatawan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam budaya lokal dan kesejahteraan masyarakat. Solusinya? Kita bisa mulai dengan membatasi jumlah wisatawan di destinasi tertentu melalui sistem reservasi atau kuota. Selain itu, mari kita jelajahi sisi lain Bali yang belum terlalu ramai, seperti Bali Utara dan Barat, agar wisata lebih merata. Wisatawan juga perlu diedukasi untuk lebih menghormati budaya dan menjaga kebersihan lingkungan. Pemerintah dan pelaku usaha harus beralih ke konsep ekowisata yang lebih ramah lingkungan serta mendukung pariwisata berbasis komunitas. Jika kita tidak bertindak sekarang, pesona Bali bisa terkikis selamanya. Mari bersama menjaga Bali agar tetap lestari untuk generasi mendatang! +
Hubungan Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Lingkungan merupakan bagian dari Tri Hita Karana. Ketiga elemen ini bisa dilihat pada saat upacara keagamaan, terutama odalan di Pura. Setiap odalan di Pura pasti pemedek meninggalkan sampah plastik maupun bunga sisa sembahyang. Dari banyaknya sampah yang ditimbulkan banyak pula limbah yang dihasilkan, untuk meminimalisir hat tersebut harus ada kesadaran antar manusia, pemedek harus membuang sampah pada tempatnya, pengelola tempat harus menyediakan tempat sampah yang jumlahnya memadai. Di samping itu, kita juga harus bisa menciptakan hal yang baru, dimana sampah plastik pemedek bisa didaur ulang menjadi tempat duduk yang bisa digunakan saat santai di areal pura dan bisa memanfaatkan sampah organik (daun, bunga, sampah organik lain) sebagai plastik ramah lingkungan. Dengan teknologi sekarang kita seharusnya dapat membuat plastik yang ketika dibuang ke alam bisa menyatu dengan bumi pertiwi, yang ketika dimakan hewan tidak berbahaya, bahkan bisa menjadi plastik yang digunakan menjadi pupuk. Dengan Pilah, Pilih, dan Pakai ulang sampah yang kita pakai bisa membantu mengurangi polusi yang ada, membuang sampah pada tempatnya itu kewajiban tapi mengolah sampah menjadi hal yang berguna itu luar biasa. +
Kesadaran diri sangat penting karna kita tidak bisa mengurangi sampah apabila tidak ada kesadaran dari dalam diri sendiri. +
Sebenarnya,banyak cara untuk menanggulangi sampah saat upacara agama,tapi yang paling penting sebenarnya,adalah dari diri kita sendiri.
Kita tidak sadar,membuang sampah sembarang,adalah cara untuk merusak lingkungan secara perlahan,kita hanya berpura pura peduli,pada saat ada acara gotong royong,yang sebenarnya kita lakukan selama ini,hanya berkata kata tanpa ada tindakan,bagi saya,cara terbaik menanggulangi sampa,dari kesadaran kita sebagai umat Hindu, setelah kita sadari, barulah kita lakukan dan laksanakan,karna,
Pemikiran tanpa tindakan, hanyalah omong kosong belaka. +
Di Pura Besakih pada saat Purnama Kadasa, banyak pemedek yang tangkil sehingga menyebabkan penumpukan sampah. Pengelolaan sampah dan solusi yang dapat dilaksanakan yaitu dengan cara mengganti penggunaan plastik sekali pakai dengan alternatif lain seperti bokor, totebag, atau tas rajutan tradisional yang dapat dibawa mandiri. Lalu sisa persembahyangan seperti kwangen, bunga, dan dupa yang dibawa dari rumah, dapat dibawa ke rumah kembali. Dibuatkan larangan kepada penjual snack dan minuman di area luar Pura agar dapat mengurangi sampah kemasan. Dan memperbanyak papan himbauan serta tong sampah sehingga para pemedek bisa dan ingat membuang sampah pada tempatnya. Pemberian sanksi kepada pemedek yang masih membuang sampah sembarangan dan menggunakan plastik sekali pakai, sehingga kita bisa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Pura Besakih ini +
1. Hindari penggunaan kantong plastik untuk membawa alat persembahyangan atau barang lainnya. Alih-alih menggunakan kantong plastik sekali pakai, pemedek dapat memilih wadah yang lebih ramah lingkungan, seperti tas anyaman maupun tas yang terbuat dari kain yang dapat digunakan kembali.
2. Melakukan pemilahan sampah.
Pura sebaiknya menyediakan tempat sampah yang terpisah untuk sampah organik dan non-organik, sehingga sisa-sisa persembahyangan organik seperti bunga, canang ataupun daun bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah non-organik didaur ulang untuk mengurangi pencemaran.
3. Mengedukasi para pemedek mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan memilah sampah bisa diberikan melalui ceramah ataupun media komunikasi seperti papan informasi di area Pura.
4. Mengadakan kegiatan gotong royong pasca upacara. Dengan melaksanakan gotong royong ini, sampah-sampah dapat dikumpulkan dan dipilah dengan baik, sehingga lingkungan Pura tetap bersih dan sakral.
Melalui penerapan langkah-langkah tersebut, aktivitas keagamaan di Pura dapat tetap berlangsung dengan penuh khusyuk, tanpa meninggalkan jejak negatif bagi alam sekitar. +
1. Hindari penggunaan kantong plastik untuk membawa alat persembahyangan atau barang lainnya. Alih-alih menggunakan kantong plastik sekali pakai, pemedek dapat memilih wadah yang lebih ramah lingkungan, seperti tas anyaman maupun tas yang terbuat dari kain yang dapat digunakan kembali.
2. Melakukan pemilahan sampah.
Pura sebaiknya menyediakan tempat sampah yang terpisah untuk sampah organik dan non-organik, sehingga sisa-sisa persembahyangan organik seperti bunga, canang ataupun daun bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah non-organik didaur ulang untuk mengurangi pencemaran.
3. Mengedukasi para pemedek mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan memilah sampah bisa diberikan melalui ceramah ataupun media komunikasi seperti papan informasi di area Pura.
4. Mengadakan kegiatan gotong royong pasca upacara. Dengan melaksanakan gotong royong ini, sampah-sampah dapat dikumpulkan dan dipilah dengan baik, sehingga lingkungan Pura tetap bersih dan sakral.
Melalui penerapan langkah-langkah tersebut, aktivitas keagamaan di Pura dapat tetap berlangsung dengan penuh khusyuk, tanpa meninggalkan jejak negatif bagi alam sekitar. +
Kita tahu, perekonomian Bali bertumpu pada sektor pariwisata. Overtourism di Bali tak hanya sebatas kepadatan turis. Meski pembatasan kunjungan wisatawan bisa menjadi solusi, masalah utama justru terletak pada bagaimana budaya asing meresap ke dalam kehidupan masyarakat Bali. Budaya asing semakin menggeser tradisi lokal, transportasi tradisional seperti cikar serta dokar terpinggirkan oleh kendaraan bermotor yang mencemari lingkungan dan lainnya.
Untuk menjaga budaya Bali yang adi luhur, diperlukan komitmen kuat dari masyarakat, pemerintah, dan wisatawan. Masyarakat harus lebih aktif dalam mempertahankan adat istiadatnya, menolak praktik wisata yang merusak, serta mendukung ekowisata berbasis komunitas. Pembatasan wisata berbasis kuota, promosi ekowisata berkelanjutan, serta edukasi etika budaya bagi wisatawan harus diterapkan secara tegas. Festival budaya harus diperkuat dengan regulasi nyata, bukan sekadar seremonial belaka yang seharusnya tidak hanya menjadi tontonan bagi turis, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap bangga dengan warisan leluhur. Tanpa komitmen bersama, konsekuensinya bisa mengikis identitas Bali sebagai warisan budaya adiluhur. +
Bila telah selesai bersembahyang, sudah pasti para umat menghasilkan sampah kecil sisa melakukan Panca Sembah seperti helaian bunga dan dupa yang sudah dibakar. Sampah itu sering kali dibiarkan berserakan di tempat duduk. Para umat yang akan bersembahyang selanjutnya harus menunggu para sukarelawan untuk menyapu terlebih dahulu, barulah bisa duduk dan bersembahyang. Saya memiliki pemikiran untuk mengatasi sampah kecil seperti itu. Biasanya kalau di pura, ada tempat duduk umat yang menggunakan paping blok, ada juga tanah yang berisi rumput untuk menancapkan dupa. Nah, tempat menancapkan dupa itulah yang dapat diganti dengan selokan kecil yang berisi air mengalir. Para umat bisa membuang bunga sisa sembahyang ke selokan kecil tersebut. Nanti sampah kecil sisa sembahyang itu akan hanyut oleh air yang mengalir. Di ujung aliran air, sampah akan disaring dan dimasukkan ke lubang biopori. Air yang mengalir juga tidak akan dibuang, tetapi akan disedot kembali ke atas dan mengalir lagi di selokan kecil tersebut. Sistemnya sama seeprti air yang dipakai untuk bercocok tanam hidroponik. +
jika buang sampah sembarangan bisa kena denda? kok bisa +
Masyarakat Bali pasti sudah tau berita yang sedang viral di media sosial. Contohnya wisatawan yang menyewa dan membawa sepeda motor di jalan tetapi cara nya membawa motor itu ugal-ugalan, membuat masyarakat resah dan membahayakan orang lain. Banyak juga wisatawan yang menetap dan membuat usaha di Bali, seperti membuat Villa atau bangunan yang lain nya.
Solusi permasalahan di dunia pariwisata yang sering kita dengar dan temui yaitu. Pemerintah membawa peran penting dan tegas dalam masalah ini, tindak tegas secara hukum wisatawan yang membuat usaha di tanah kelahiran kita sendiri, Bali. Selain itu, pastikan atau adakan pengecekan wisatawan yang datang dari luar Bali sudah membeli tiket pulang atau kembali ke tempat asal nya, solusi yang sekiranya bisa meminimalisir banyak na wisatawan yang malah menetap di Bali. Dan, solusi yang terakhir, agar budaya, tanah, dan tradisi Bali tetap lestari, wisatawan yang berkunjung ke Bali sepatutnya mengajak tourguide atau pemandu wisata, ada nya pemandu wisata guna memberikan informasi yang baik. +
Pulau Bali adalah pulau seribu pura. Mayoritas penduduk di Bali menganut agama Hindu. Seperti yang kita ketahui, di Bali ini banyak sekali ada upacara keagamaan yang mengharuskan para umat Hindu datang ke pura untuk melakukan persembahyangan. Hal inilah yang sering kali menyebabkan adanya sampah berserakan di area pura, salah satunya sampah plastik. Tentu saja ini disebabkan karena tidak semua manusia paham dan sadar untuk membuang sampah pada tempatnya. Adapun solusi untuk meminimalisir adanya sampah plastik di pura yaitu salah satunya menggunakan tas anyaman (seperti difoto sampul) sebagai pengganti kresek untuk tempat canang atau banten. Menggunakan tas anyaman tidaklah mengurangi makna dan fungsi saat pergi ke pura, justru tas ini membantu orang-orang yang malas membuang sampah untuk tidak mengotori area pura. +